Cerita Sex Pengalaman Pertamaku Berhubungan Di Dalam Kolam
Sore hari ini saya tidak ada acara sesudah tiga hari yang meletihkan. Saya putuskan turun ke swimming pool untuk mengendorkan kemelut. Hotel tempatku bermalam ini termasuk yang terbaik di sini. Saat kuintip dari jendela, pool belum lumayan ramai. Karena mungkin saat ini baru jam 3 sore dan ini bukanlah hari liburan.

Cersex Keluarga – Saat sebelum terjun saya lakukan pemanasan dahulu. Saya mampu berenang bolak kembali 200 m tiada henti. Tubuhku fresh, walau napas ku terengah-engah. Saya istirahat sekalian memendam badanku di di air. Kolam renang ini kelihatanya sepi sekali. Cuma ada seorang anak wanita yang merendam di kolam.
Ia keliatannya memerhatikan saya saat saya lakukan rally 200 m, barusan. “Oom kuat benar berenangnya, oom perenang ya,” tegur gadis kecil yang dekatiku. “Dahulu saat waktu sekolah sebelumnya pernah juara renang se propinsi, tetapi saat ini sudah tidak kembali, Hanya olahraga saja kok dik. Adi sama siapa,” tanyaku. “Sama mama itu sedang duduk di situ,” ucapnya sekalian mengalihkan wajahnya mengarah ibunya.
“Mas kuat sekali renangnya,” tegur mamanya yang tiba merapat saat saya sedang bercakap. “Ah biasa saja mbak,” jawabku santun. Sosok wanita yang kutaksir berusia sekitaran 30 lebih, tetapi mukanya elok dan bentuknya masih singset. Keliatannya ia turunan China. Ia kenakan pakaian renang tapi sisi bawahnya ditutup handuk.
“Mari mbak berenang, jika kelamaan di atas kelak dapat masuk angin lho, “ujarku 1/2 memikat.
Wow bodinya putih, saat sekelebat kelihatan sebentar handuknya dibuka. Ia lantas pelan-pelan merosot ke kolam renang. ” Saya tidak dapat berenang, tetapi ingin dapat,” ucapnya.
Kami terturut percakapan rileks sekalian merendam di pinggir kolam. Saya tidak berani memikat dan berusaha berbicara dengan kata-kata yang santun. Bukanlah saya tidak tertarik, tapi saya enggan memikatnya, karena ada anaknya yang manis selalu nimbrung bercakap.
Awalnya Novi demikian anak manis yang kutaksir baru berumur 11 tahun itu meminta diajari berenang.
Ia kuajari lakukan pergerakan kaki sekalian tangannya berdasar ke bibir kolam renang. Ibunya ikutan lakukan pergerakan sama seperti yang kuajarkan pada anaknya. Saat Novi kuminta meng ikuti pergerakan kakiku pergerakan kaki katak, ia cukup kebingungan mengkoordinasikan kayuhan kakinya.
Oleh karena itu saya menjadi menggenggam ke-2 ujungnya kaki Novi dan gerakkan seperti yang aku mau. Sesudah ia mendapatkan tahu triknya ia kuminta terus latihan sampai pergerakannya lemas. Eh lha dhalah, mamanya turut juga meminta dilatih kakinya. Dengan sabar kuajarkan pergerakan itu sekalian melakukan pelan-pelan. Sesudah kulepas ia dapat , tapi selanjutnya kacau-balau kembali. Saya menjadi menggenggam kembali ujung kakinya dan mengulang pergerakan kaki katak. Kaki Jeanet, demikian nama sang mama memang cukup kaku. Berulang-kali saya harus menuntun pergerakan kakinya sampai ia pahami irama pergerakannya.
Ke-2 mereka lantas latihan sekalian berpegangan di tepi kolam.
“Oom kaki sudah dapat nih, terus pergerakan tangannya bagaimana,” bertanya Novi.
Saya terperanjat. Untuk latih pergerakan tangan, saya kan harus menggenggam sisi depan badannya dan mengusungnya di apungkan ke air. Saya merekomendasikan supaya mamanya yang menggenggam dan mengapungkannya, dan saya memberikan contoh pergerakan tangannya.
“Ah mama tidak dapat Nov, meminta Oom saja yang megangin, mama ingin diajari koq,” kata mamanya.
Dengan hati cukup canggung dan memutar otak, saya mau tak mau terima keinginan Novi. Permasalahannya saya harus menyokong sisi mana supaya jangan sentuh sisi penting. Tetapi rasanya mustahil mengusung Novi tanpa sentuh sisi vitalnya di atas dan di bawah. Saya putuskan merentang tanganku dengan posisi telapak tangan mengarah ke bawah. Saya bukan tidak ingin sentuh, tapi saya cenderung lebih memilih supaya tidak didakwa kurang ajar.
Posisi tanganku yang begitu kenyataannya susah. Saya menjadi cepat capek dan kontrol pengapungan tubuh Novi menjadi buruk. Penyebabnya dengan pergerakan tangan dan kaki, tubuh Novi menjadi seperti mau melesat di depan, walau sebenarnya saya harus terus mengawasinya supaya ia tidak terbenam.
Harus posisi tanganku menjadi menengadah. Tangan kanan ku menyokong di bagian atas, dan yang kiri menyokong badan Novi sisi bawah. Di posisi ini benar-benar tidak mungkin tidak menyenggol tetek Novi yang baru tumbuh dan kemaluannya yang menggelembung.
Novi tetapi seperti tidak merasakan risi beberapa bagian intimnya kesenggol tanganku. Justru ia lakukan pergerakan liar dan kacau-balau hingga saya mau tak mau mengawasinya dengan kontrol yang kurang jeli, hingga kerap kali teteknya tercekam telapakku begitupun kemaluannya. Ini saya tidak menyengaja dan jujur saya berbicara benar-benar.
Sesudah sesaat koordinir pergerakan tangan dan kaki Novi mulai baik. Tanpa kupegangi kembali ia dapat mengapung dan bekerja maju dengan kayuhan kaki dan tangannya.
Ibunya takjub atas perkembangan Novi belajar berenang. Walau tidak berani ke kolam dalam, tapi Novi bisa hilir- mudik mengayuhkan kaki dan tangannya.
“Mas saya diajari donk,” kata ibunya.
Aduh mati saya, masak keinginan sang ibu ku tolak, apa argumennya. Tetapi jika kuterima kan bermakna saya akan menggenggam payudara dan kemaluannya. Apa ia kelak tidak geram, jika tersenggol itunya. Harusnya ia mengetahui dampak negatif itu, tapi toh ia memutuskan untuk terima dampak negatif tersebut. Atau jangan-jangan meminta diajari renang itu cuma argumen sambilan saja, dan argumen intinya meminta disentuh sisi keutamaan. Jika argumen yang ke-2 itu maksudnya, dan saya tolak bermakna saya bodoh hebat.
Sampai di sini saya harus mengubah sikap tadi penuh sopan, menjadi harus cukup nakal nih. “Wah jika ngajari orang besar ada biayanya mbak,” kataku dengan suara canda.
“Koq menjadi komersial sich, emangnya berapakah biayanya,” bertanya Jeanet sekalian melepas lirikan cukup memikat.
“Berapakah yaaa.., wah menjadi kebingungan nih,” kata ku dengan mimik polos.
” Karena itu jangan berlagak komersial, sudah ahh, bagaimana sich,” kata Jeanet.
Saya lantas memberikan instruksi supaya ia berpegangan dulu ke bibir kolam lantas ke-2 tanganku ada di bawah tubuhnya sekalian saya cari posisi yang tidak segera sentuh buah dadanya dan kemaluannya. Tangan kiri ku menyokong di dada sisi atas dan tangan kananku ke perut sisi bawah, sedikit di atas kemaluannya. Perlahan-lahan saya angkat dan kujauhkan dari bibir kolam.
Ke-2 tangannya kuminta mengayuh seperti tadi kutunjukkan padanya. Ia melakukan perlahan-lahan. Pergerakan ini tidak begitu membuat style maju hingga saya bisa meredam tubuhnya. Tapi sesudah saya revisi arah telapak tangannya, karena itu pergerakan maju tubuhnya jadi makin bertambah besar. Sebelumnya ke-2 tanganku bisa di zone santun. Seterusnya pergerakan tangannya yang semakin cepat membuat tempatnya berubah. Saya menjadi kewalahan saat sanggahan tangan ku lepas dan ia cukup kelelap.
Selekasnya saya mengusung badannya ke atas dengan sanggahan ke-2 tanganku. Peristiwanya, tangan kiriku mengusung pas di ke-2 gundukan empuk dadanya dan satu kembali mengenai gundukan penting yang bawah. Tetapi Jeanet terlihat cuek saja. Aku juga berpura-pura tidak merasakan sentuhan ke sisi vitalnya. Ia terus berkecipak, tetapi iramanya kacau-balau, hingga air muncrat ke mana saja dan menimpa mukaku. Dalam situasi kacau-balau itu telapak tanganku pada akhirnya menakutkan samping susunya dan yang bawah sebelumnya sempat mengusung pada bagian segitiga bawahnya. Saya coba bertahan pada bagian itu, sekalian sedikit lakukan remasan lembut.
Saya tidak bela diri, terkecuali ke arah sisi yag cukup dalam hingga cuma sisi kepala ku yang ada ke permukaan air. Novita mentas ke atas. Ibunya mempraktikkan pergerakan renangnya sekalian memburu ku. Ia selanjutnya turut berdiri di sampingku.
“Cape ya mas ngajari saya,” bertanya Jeanet.
“Ah tidak, Hanya tidak berani mentas saja, ” kataku jujur.
” Mengapa,” tanyanya.
Tanpa kusadari tangannya ternyata raih senjataku di bawah. Ia memegangnya.
” Oh pantesan, ” ucapnya sekalian tersenyum.
Mendapatkan gempuran tiba-tiba saya sebelumnya sempat terkejut, tapi saya berusaha bertahan pada posisiku. Lantas saya berpura-pura mendesis. Melhat reaksiku, cengkraman tangan Jeanet justru semakin aktif. Tangannya justru masuk ke celana renangku dan senjata ku yang siap tempur dibekapnya. “Wah cukup ,” ucapnya sekalian lakukan pergerakan mengocak. Saya terus mendesis sekalian memperhatikan keadaan di sekitarku. Kondisinya terlihat aman. Novita tidak terlihat.
Jeanet tidak senang meremas ia lantas menyelam dan menarik ke bawah celana renangku. Senjataku yang tegak prima disosornya. Pengalamanku pertama di oral di di air. Enaknya hebat. Tetapi Jeanet tidak dapat berhan lama. Ia berulang-kali ada dan terbenam. Tetapi saya tetap bertahan tidak menyembur lahar.
Jenaet selanjutnya kecapekan hingga ia bertumpu di bibir kolam. Gantian ku saat ini menggerayang. Tujuan tanganku langsung ke sisi bawah dan menyodok masuk dari celah bawah celana renangnya. Jariku temukan sela yang dirasa hangat dan dengan mahir sang jemari tengah mengeksploitasi pusat rangsangan clitorisnya. Dengan pergerakan lembut saya menyeka sesaat sampai Jeanet selanjutnya menekan tanganku dan berasa sisi dalam kewanitaannya berdenyut.
“Kamu harus bertanggungjawab,” kata Jeanet sekalian merengkuh samping tanganku.
Kami selanjutnya mentas, sesudah saya atur posisi senjata ku supaya tidak begitu kelihatan menggedor celana renang.
Kami gabung dengan Novita yang sedang asyik menyantap kentang goreng di bawah payung kolam renang.
Orang mungkin menduga kami ialah keluarga, karena umurku tidak jauh terpaut di atas Jeanet.
Saya tawarkan mereka untuk nikmati makanan Jepang di hotel ini. Penawaran ini segera mereka terima.
Setelah 3 jam berenang rasa lapar benar-benar sangat berasa. Mereka saya giring ke restaurant Jepang di hotel. Kami pilih ruangan yang tertutup. Jika sudah lapar makanan apa pun itu rasanya nikmat. Contohnya saya sendiri, tentu saya pilih makan di restaurant Padang, karena lapar sekali. Tetapi karena saya menenteng tamu yang elok dan anaknya yang centil, untuk gengsi saya giring mereka ke arah tempat makan yang berprestise.
Permasalahan muncul saat saya akan bayar makanan yang termasuk mahal. Waiter menampik kartu kreditku, karena ucapnya telah dibayarkan. Saya sebelumnya sempat kebingungan, jika tidak Jeanet, senyuman-senyum. Ia rupanya telah menyusul melunasinya. Mungkin saat ia ke toilet barusan ia singgah ke kasir.
Dari percakapan kami semenjak di kolam renang sampai makan di restaurant, saya ketahui jika Jeanet ialah istri ke dua dari pebisnis populer. Ia jarang-jarang dikunjungi suaminya, karena selainnya repot mondar-mandir ke luar negeri, ia punyai rumah tangga lain.
Saat lagi kami asyik bercakap sekalian, Novita merajuk ke ibunya karena ia tersesak bab. Dengan cekatan saya tawarkan untuk memakai kamar mandi di kamarku. Mereka menyepakati dan kami juga naik ke lantai kamarku. Saya ambil Junior Suite room . Maka kamarnya cukup lega. ” Wah sedap sekali kamarnya mas, bagus ya,” tutur Jeanet beri pujian kamarku.
“Ah tetapi amburadul, mahfum kamar lelaki,” kataku sekalian membenahi baju-bajuku yang berantakan pada tempat tidur.
“Sampai kapan nginep di sini,” tanyanya.
” Gagasannya esok sabtu kembali, dengan flight siang,” jawabku.
” Ma kamarnya sedap ya Ma, kita nginap di hotel donk malam hari ini, esok kan Novi liburan, agar esok pagi dapat berenang kembali, ” kata Novi.
“Sudah nginep di dalam kamar oom saja Nov, hotelnya kembali penuh,” sambutku, karena saya menyaksikan kesempatan di muka yang menarik.
“Iya ma, iya ma, kita bersama ama oom saja,” menyambut Novi sekalian naik-lonjak.
Aku juga dalam hati naik-lonjak, karena menyaksikan kemungkinan meneruskan permainan kami di kolam renang barusan.
“Tetapi kan kita tidak membawa pakaian mengganti, untuk esok Nov,” kata ibunya.
“Ya kita gunakan pakaian ini kembali saja,” sangkal Novi.
“Tetapi kan tidak membawa pakaian tidur Nov,” kata Jeanet.
” Ala-ala mama, udahlah seperti biasa di dalam rumah saja,” kata Novi.
Jeanet lantas menceritakan jika semenjak mereka dibawa suaminya liburan ke arah selatan Prancis pada berlibur musim panas lalu, mereka ada di resor nudis sepanjang satu minggu. Semenjak itu Jeanet dan anaknya, di apartemennya mengaplikasikan kehidupan nudis. Bahkan juga pembantunya ikutan Nudis, karena ia dibawa liburan ke Prancis.
“Memang pembantunya masih terbilang muda?” bertanya ku.
“Ya sekitaran 23 tahun lah, pembantu ku elok lho, tetapi sudah janda,” kata Jeanet.
Di dalam kamar ku ini cuma ada singgel bed, walaupun lumayan besar. Saya masih bimbang bagaimana triknya atur tidur bertiga.
Saya buka bed cover melipatnya dan ku masukan ke almari sisi bawah.
Novi mengambil langsung posisi di tengah-tengah.
“Jangan tidur dahulu kamu harus mandi basuh, air kolam renang kan tidak terlampau bersih,” kata Jeanet mengingati.
“Ya mama, saya sudah mengantuk ni,” sangkal Novi.
“Mama mandi donk,” kata Novi menambah.
Ia dengan malasnya bangun dari tempat tidur. “Mari ma kita mandi sekaligus, Oom sekaligus dech,” kata Novi sekalian menyeret mamanya dan saya dari bangku.
Ini nahas besar, jika saya mandi bersama mereka, tentu saja senjataku mengacungkan. Saya sich suka-suka saja, tapi dengan senjata ngacung ini, kemauanku dalam hati secara gampang bisa dibaca donk.
“Mari dech mas kita mandi sama,” Jeanet melempar penawaran.
Bolehkah buat, penawaran tidak dapat ditampik, dan saya ingin juga rasakan kesan baru.
Kamar mandiku mode Jacuzzi. Saya membersihkan sesaat lantas kuisi sama air hangat. Sementara itu Novita dan ibunya telah kupas semua bajunya. Tanpa rasa canggung mereka telah bugil. Pada kondisi semacam itu, saya tidak dapat bertahan tidak untuk bugil. Malulah. Dengan membelakangi mereka saya melepas semua bajuku. Untunglah sang otong belum sadar, hingga ia tetap menggelantung. Tetapi sebetulnya mulai membesar sedikit.
Bath tub cukup buat kami merendam bertiga. Badan Jeanet memang sungguh mulus dan putih. Anaknya Novita sama dengan emaknya putih mulus dengan buah dada yang baru tumbuh dan di bawah sana masih gundul plontos. Emaknya cukup lebat. Jeanet wanita beranak satu ini bodinya masih bagus. Dengan bentuk yang lebih tinggi, sekitaran 172 cm, pinggangnya kelihatan ramping dan perutnya belum membusung. Ia keliatannya pintar menjaga badan. Kami bercengkerama dalam bak. Sekalian mengobrol, tangan Jeanet tidak enggan-segan raih senjataku dan meremas-remasnya. Saya diperlaukan demikian, sudah pasti canggung, karena Novita ada disampingku. Tetapi jika kularang, rasanya saya koq berlagak jual mahal.
Belum saya kikuk dengan situasi semacam itu, Jeanet justru merengkuhku dan menyeruput bibirku. Belum siap dengan gempuran tiba-tiba, saya menjadi mirip orang bloon. Jeanet mencumbuku seakan-akan kami cuma berdua. Walau sebenarnya anaknya yang mulai remaja berada di dekatnya. Sekalian mencium bibirku tangan Jeanet mengocak-ngocok tangkai ku yang telah mengeras prima. Saya tidak memiliki daya hadapi keadaan yang mencekam ini.
Kulirik Novita cuma diam saja memerhatikan kami bercumbu. Lama sekali rasanya bibir Jeanet membungkam mulutku. Karena mungkin situasi yang mencekam ini saya menjadi merasa waktu bergulir lamban sekali.
Belum habis keherananku, tangan Novita tarik tanganku arahkan ke kemaluannya. Saya disuruhnya menyeka-usap gundukan kecil di sana. Semakin runyam saja keadaan ku. Semua saya patuhi saja, dan kelak saja lah cari tahu bagaimana sebetulnya background keluarga ini.
Jeanet melepaskan bibirnya dari mulutku, lantas ia bangun mentas dari bak mandi. Bersama dengan itu saya melepaskan belaian ke gundukan kecil Novita. Saya takut kedapatan.
Jeanet naik ke meja wastafel dan menekuk ke-2 kakinya sekalian mengangkang. Saya disuruhnya mengoral kemaluannya yang mengembang dan terlihat merah. Seperti kerbau dicocok hidung saya mengikuti tekadnya. Saya atur handuk untuk menyokong lututku yang bertimpuh di lantai. Dengan posisi berdiri pada lutut saya mengoral Jeanet, yang mengerang-ngerang tanpa tedeng aling-aling.
Sementara saya sedang berkosentrasi mengoral Jeanet, saya merasa di bawah sana senjataku seperti dioral. Saya sudah pasti tidak dapat menyaksikan, tetapi dapat menyangka tentu itu pekerjaan Novita.
Pada kondisi yang mebingungkan itu, rangsangan yang kurasakan menjadi tidak optimal. Bolehkah buat semua harus saya terima dengan tulus.
Jeanet selang beberapa saat telah capai orgasme, diikuti tangannya membungkam kepalaku dan kemaluannya berdenyut. Sementara saya telah capai rangsangan yang prima dengan kekerasan senjata optimal. Jeanet menarikku supaya berdiri dan ia selekasnya raih senjataku lantas dibantunya masuk gerbang merah.
Novita bangun dari kolong wastafel dan ia duduk di toilet sekalian memerhatikan kami berperang. Jeanet benar-benar liar dan jalang. Ia mendesis dan bernada bising sekali. Saya menjadi semakin terangsang hingga kemudian saya orgasme pada waktu yang tidak begitu lama. Saya tidak paham apa Jeanet capai orgasme . Mungkin saat barusan saya menyemprot lahar ke lubangnya ia menarik bokongku kuat sekali. Disaat penisku berdenyut saya tidak sebelumnya sempat memerhatikan apa lubang Jeanet berdenyut.
Selesai pertarungan itu kami membersihkan sisi penting kami dengan shower. Kamar mandinya menjadi becek dengan kubangan air di mana-mana. Awalnya saya sebelumnya sempat mengusung handuk yang dipakai untuk mengalasi dengkulku barusan.
Belum saya menanyakan dari keadaan yang sulit baru saja, Sang Novita meng ikuti apa yang sudah dilakukan ibunya. Ia mengangkang di atas meja wastafel yang meminta dioral. Saya diambilnya utuk selekasnya menservicenya. Saya tidak sebelumnya sempat menanyakan dan meminta ijin ibunya, kepala ku telah diambil Novita keselangkangannya.
Kuturuti kemauan Novita dan saya mengoral lagi. Tetapi ini kali gudukan kecil yang gundul. Novita menggeliat-gelinjang memperhitungkan sapuan lidahku langsung di clitorisnya. Apesnya anak kecil ini lama benar orgasmenya sampai saya lelah. Pada keadaan habis berperang keadaanku pasti tidak begitu kuat. Tetapi senjataku lumayan tangguh, karena ia sekarang telah membesar nyaris prima kembali. Mungkin kesan 3 some aneh ini membuat ia cepat terjaga.
Mungkin Novita jemu dijilat terus-terusan tetapi tidak juga mendapatkan orgasme. Ia menarik kepalaku ke atas dan saya disuruh menusukkan rudalku ke belahan kecil yang memeras. Saya patuhi saja tekadnya, karena aku juga baru pertama ini kali mencicip gadis yang benar-benar belia.
Perlahan-lahan kutekan senjataku masuk gerbang kecil. Saya benar-benar waspada menekankannya. Tapi rasanya tidak ada rintangan yang bermakna. Ringkasanku Novita tidak virgin kembali. Ia bukanlah meringis kesakitan justru menarik bokongku kuat-kuat sekalian menggoyang pinggulnya. Senjataku tanpa rintangan bermakna telah tenggelam prima.
Saya terus memompanya, mungkin sampai 10 menit tidak ada pertanda Novita akan orgasme. Saya sendiri merasa O ku masihlah jauh. Kugendong Novita lantas saya ke arah masuk ke dalam bak mandi. Saya duduk di bibir bak, dengan kaki tergenang air hangat. Tempatnya sekarang Novita ada di atas ku seperti duduk dipangkuan posisi bertemu. Sesudah saya duduk pada sikap yang PW, Novita gerakkan pinggulnya dengan irama yang tidak karuan. Ia mulai mengerang-erang. Mungkin ia memperoleh posisi yang pas hingga ia lakukan pergerakan yang ia harapkan. Di posisi itulah selanjutnya mengeluh dan menjepitkan ke-2 kakinya ke tubuhku.
Sesudah ia capai kepuasannya, saya selekasnya menuntunnya keluar bak mandi dan membersihkan kemaluannya.
Jeanet cuma senyuman senyuman saja. ” Sedap nak,” tanyanya ke Novita.
Yang ditanyakan menggangguk.
“Jangan bingung ya, keluarga kami memang aneh,” kata Jeanet saat kami merendam lagi.
Sehabis mandi dan keringkan tubuh kami keluar kamar mandi tanpa tertutupi pakaian kembali masuk langsung ke selimut. Saya di tepi, Novita di tengah-tengah dan Jeanet di lain sisi.
Dari keterangan Jeanet, Novita disetubuhi ayahnya sendiri. Mereka di tempat tinggalnya mengaplikasikan free seks. Mereka bebas telanjang, termasuk pembantunya. Jika suaminya inginkan jalinan intim, ia kerjakan demikian saja di mana juga ke siapa saja termasuk pembantunya.
Tidak ada rasa cemburu di dalam rumah itu, dan tidak ada kemauan kuasai. Mereka telah hidup semacam itu kurang lebih dua tahun. ” Jadi Novi usia berapakah disetubuhi,” tanyaku.
” Mungkin saat itu masih sepuluh tahun,” kata Jeanet.
Saya bukanlah bingung justru semakin terangsang. Apalagi tangan Novi terus meremas-remas batangku ia bangun dan buka selimut hingga kami terkena terlentang telanjang. Ibunya turut bangun dan secara langsung menyosor batangku yang telah tegang sejak dari barusan.
Cuma sesaat dikulum-kulum ia lantas naiki badanku dan masukkan senjataku ke celahnya. Saya pasif saja sementara Jeanet memicuku dengan pergerakan dan celotehannya.
Ia capai orgasme bisa lebih cepat dari ku hingga saya harus mengubah posisi untuk memacu Jeanet.
Sekalian saya mengayuhnya saya cari posisi yang paling dirasa sedap oleh Jeanet. Sesudah poisisi itu kuketahui saya bertahan demikian secara terus menggenjut. Kami pada akhirnya nyaris bersama capai orgasme.











