Cerita Sex Melakukan Pemerkosaan Kepada Mahasiswi Yang Sangat Bohay
Nach awalannya, ada cewek yang baru tiba dari Jakarta namanya Vira (nama rahasia). Saya seringkali dengar narasi dari beberapa teman jika Vira ini elok dan sukai kenakan pakaian seksi, apalagi pada awal Fall semester itu udara masih panas-panasnya.

Bokep Hijab – Sesuatu hari di universitas, saya berpapakan dengan beberapa teman cewek. Seperti umumnya, saya hanya basa-basi saja karena saya memang populer cuek di muka cewek-cewek. Sesudah basa-basi, saya katakan saya telah telat masuk ke dalam kelas. Saat kembali tubuh, eh nyaris bertubrukan dengan cewek tinggi elok yang melalui di belakangku. Lainnya langsung ketawa.
“Alahh Ricky tentu dech tersengaja agar kenalan”, kata cewek-cewek memikatku. Rupanya itu yang bernama Vira. “Alow.., saya Ricky”.
“Vira”, ucapnya cuek.
Sesudah hari itu saya sebelumnya tidak pernah kembali berjumpa dengan Vira. Sampai sesuatu hari saat baru keluar kelas, saat jalan pulang saya saksikan Vira sedang duduk sendiri merokok di luar gedung English. Ah, peluang nih pikirku. Langsung saya hampiri ia. Wah edan dech.., bajunya membuatku tidak kuat. Pakaian kurang bertali atasnya dan celana pendek warna coklat.
Saat saya dimukanya, terlihat payudaranya yang mencolok dengan tali BH hitamnya yang menambahkan seksi performanya. Wah.., ini ternyata cewek-cewek Jakarta zaman sekarang ini. Sesudah basa-basi sedikit, saya ikut-ikutan merokok dengan dia dan menceritakan mengenai kita.
Mendadak ia menanyakan, “Eh Ric.., loe jika tidak ada kelas kembali jalan yok.., Saya asli boring sekali nih”. Terus sesudah kebingungan ingin jalan ke mana, kita putuskan pergi ke kota H yang jaraknya 2 jam. Ucapnya ia ingin ke mall, ingin shopping.
Hari itu kita menjadi dekat sekali sampai sebelumnya sempat bergandengan tangan di mall. Saya tidak paham mengapa saya yang awalannya gairah menjadi sukai betul padanya. Anaknya cuek, asyik dan lucu kembali. Apalagi ia suka saja jalan denganku yang termasuk anak “bawah” di kotaku. Mobil telah butut, uang selalu ngepas. Wah.., untung dech sepertinya sang Vira ini tidak matre.
Sesudah satu bulan menjadi sahabat, sesuatu malam pulang dari bermain billiard ia ajakku ke tempatnya. Ia tinggal dengan tantenya yang telah memiliki keluarga dan punyai 2 anak. Saat itu sekitaran jam 2 malam . Maka Om dan Tantenya telah pada tidur semua. Ia segera ajakku ke dapurnya yang besar sekali.
“Ingin beer Ky?”, tawar Vira.
“Tidak usahlah Vir.., jika loe ingin ya satu berdua saja”, jawabku (saya memang tidak demikian sukai yang bernama minuman keras).
Terus waktu Vira tiba bawa beernya.., ia segera jongkok di depanku yang duduk di atas bangku. Wah.., kembali lagi dengan salah satunya pakaian sexynya, panorama payudaranya sama persis di muka mataku. Tanpa sadar penisku telah naik menyaksikan benjolan payudara yang putih tersebut. Karena posisiku yang sedang duduk, karena itu penisku yang tegak jadi cukup nyangkut. Langsung saya membungkuk sedikit agar tegangnya tidak demikian menganiaya.
“Ky.., loe tuch telah Saya kira sahabat Saya di sini. Terang-terangan.., loe tuch salah satu yang cuek saja jika dimuka Saya.., karena itu saya sukai. Cowok lain kan rerata sukai genit-genit begitu.., ah malas sekali dech Saya saksikan cowok gituan”, kata Vira sekalian melihat tajam ke mataku.
“Jadi rekan doang nihh?”, kataku sekalian tertawa kecil.
“Ini baru ingin tanya.., loe sama Saya saja ingin tidak?”, kata Vira sekalian tersenyum kecil.
“Ah gurau loe.., Saya tidak ada modal buat berpacaran Vir”, saya menanggapinya sekalian tersenyum .
“Telah ah.., jika tidak ingin ya telah”, kata Vira dengan berpura-pura cemberut.
Tidak paham ada dorongan darimanakah, mendadak jemari telunjukku main di pundaknya. Terus jariku naik mencari leher dan telinganya. Saya saksikan Vira diam saja nikmati permainan kecilku.
Sesudah sesaat saya bertanya, “Vir.., Saya bisa cium loe tidak?”.
“Sekali saja ya Ky..”, ucapnya dengan senyuman nakalnya. Saya bungkukkan tubuh dan secara langsung saya cium bibirnya secara halus. Pertama kita bermain bibir saja, terus ia yang mulai mainkan lidah. Sesudah sesaat ia pegang tanganku sekalian membimbingnya ke kamarnya.
Dengan khawatir saya bertanya, “Eh Oom loe tidak bangun sesaat Vir?”.
“Karena itu jangan ribut!”, jawab Vira cuek.
Sampai di dalam kamar, ia duduk lebih dulu di atas kasurnya yang cukup besar. Saya jongkok di depannya dan memulai mencium bibirnya kembali. Ini kali tanganku mulai berani menggenggam payudaranya yang memiliki ukuran 34B. Untuk ukuran badannya yang lebih tinggi kurus payudaranya termasuk besar dan cocok sekali.
Mendadak Vira mendorongku hentikan kecupan dan berbisik, “Ky.., ada satu yang penting loe tahu.., Saya tidak pernah lho yang serba aneh.., Paling jauh hanya kecupan”.
Dengan terkejut saya segera katakan, “Ya telah dech Vir.., tak perlu saja ginian”.
Dengan cepat Vira menggunting perkataanku, “Bukan begitu Ky.., Tujuan Saya.., ya perlahan-lahan saja, Saya tidak ingin loe ngira Saya beginian sama semua cowok”.
“Saya tidak perduli dengan masa silam loe Vir.., yang terpenting saat ini Saya suka sama loe.., Jika loe dahulu kerap tidak apapun kok.., kan menjadi asyik loe telah pengalaman”, candaku sekalian tertawa kecil takut Oom dan Tantenya terjaga.
“sialan loe!”, ucapnya ikut-ikutan tertawa kecil.
Tidak berapakah lama, saya maju kembali dan memulai mencium Vira. Sesudah beberapa saat saya membuka pakaiannya. Tinggal BH silk yang warna biru muda. Tanpa melepaskan BH-nya, payudaranya saya keluarin dan memulai saya berpindah ciumin dan mainkan ke-2 payudaranya. Terang-terangan, sebelumnya tidak pernah saya menyaksikan payudara sebaik ini. Penisku jadi benar-benar tegang. Apalagi permainan yang perlahan-lahan ini membuat situasi semakin erotis dan meredam rasa gairah yang menggelora membuatku makin nikmati permainan ini.
“Vir.., Saya bisa ciumin bawah lu tidak?”, bertanya saya berhati-hati. Vira cuma menggangguk kecil. Terlihat diwajahnya jika ia nikmati sekali permainan saya.
“Loe berbaring saja Vir”, kata saya sekalian berdiri dan buka pakaian dan celanaku. Sesudah ia terlentang saya membuka perlahan-lahan celananya.
Tinggallah celana dalamnya yang warna biru muda. Saya cium kakinya dari betis naik perlahan-lahan ke paha dan stop di selangkangannya. Dengan perlahan-lahan saya ambil ke bawah celana dalamnya. Rupanya bulu vaginanya tipis dan lempeng.
Cocok sekali nih dalam hati saya. Saya tidak demikian sukai vagina yang dengan bulu lebat. Mulai saya jilati vaginanya sekalian saya masukkan lidahku ke dalamnya. Vira diam saja sekalian sedikit bergoyang.
Sesudah beberapa saat Vira telah basah dan saya tidak tahan dari barusan hanya tegang saja. Saya ciumi perlahan pusarnya naik ke payudaranya terus leher dan melumat bibirnya. Sekalian berciuman saya coba masukkan penisku ke vaginanya. Pertama sich perlahan eh tahunya tidak masuk-masuk. Penisku tidak besar, tetapi cukup panjang.
Saya coba kembali menusukkan penisku, eh tetap tidak masuk. “Betul nih anak masih perawan”, dalam hatiku. Sekalian menciuminya, saya berbisik, “Saya coba cukup keras ya Vir?”. Tanpa menanti jawaban secara langsung saya coba menerobos kembali lebih keras. Tetap tidak dapat.
Pada akhirnya sesudah kurang lebih 10 menit menembus pertahanan Vira. Pertama ia terlihat kesakitan, tetapi semakin lama Vira mulai mendesah-deash kecil kenikmatan. Tangan kananku dimintanya tutup mulutnya agar ia tidak mendesah terlampau keras.
Sayang karena telah ereksi semenjak barusan, saya hanya dapat bertahan 10 menit.
“Saya ingin keluar nih Vir..” kataku dengan napas yang tidak teratur.
“Di luar Ky!”, jawabannya cepat.
Tidak berapakah lama saya keluarin sperma saya di perutnya. Saya segera ambil tissue dan bersihkan spermaku diperutnya. Vira masih terlentang diam pada tempat tidur.
“Loe tidak pa-pa Vir?”, tanyaku kawatir takut ia menyesal.
“Aduh Ky.., sakit nih jika saya gerakin”, jawabannya dengan muka meringis.
“Perlahan-lahan saja Vir”, kataku sekalian kenakan pakaian kembali.
Pada akhirnya Vira berdiri dan ikut-ikutan kenakan pakaian.
“Ky.., loe kembali dech.., esok kan ada kelas pagi”, kata Vira tanpa expressi.
“Iya dech Vir..”, jawabku sekalian mencium bibir dan keningnya.
Ia mengantarkanku sampai pada pintu depan dan saya tanpa banyak berbicara segera pergi pulang. Ini pertama kalinya saya ambil perawan cewek. Ada hati khawatir dalam hatiku.
Besoknya di universitas seperti umumnya bertemu Vira di muka Perpustakaan. Saya dengan deg-degan coba tersenyum ke Vira. Waktu di depanku, dadaku ditonjok keras.
“Sakit tahu!”, kata Vira dengan suara keras. Saya diam saja tidak paham ingin bicara apa. Eh tahunya ia segera tertawa terpingkal-pingkal.
“Tidak pa-pa kok Ky.., saya tidak geram sama loe.., asal..”, ucapnya dengan senyuman-senyum.
“Asal apaan?”, tanyaku tidak sabar.
“Asal loe menjadi cowok saya mulai saat ini”, Kata Vira sekalian melihat tajam.
Dengan hati suka saya segera katakan, “Saya sich telah nganggep loe cewek saya sejak dahulu”.
Pada akhirnya kita tertawa dan semenjak itu Vira mulai belajar sex perlahan-lahan dengan saya tentu saja.










