Cerita Sex Berhubungan Intim Dengan Ibu Patty Majikan Ibuku

Om Akhsan, paman Bram, telah 1 bulan ini sakit-sakitan, Bram merasa bersalah, 2 tahun ia menumpang di dalam rumah pamannya ini, untuk kuliah dalam suatu pelatihan pendidikan computer. Istri Om Akhsan, Bibi Ena, memikul semua beban keluarga, dengan Bram dan tiga orang anak mereka yang tetap kecil. Saat sebelum sakit-sakitan, Paman bekerja sebagai supir di keluarga Wijaya.

Cersex KeluargaLumayan lama, sekitaran 5 tahunan. Bi Ena yang bekerja sebagai pekerja bersihkan juga bekerja sangat keras sekedar untuk dapat makan. Saya? saya memercayakan kiriman orang tuaku, lebih persisnya ibuku karena saya anak yatim, yang tidak berapa dari daerah, sekedar untuk bantuan untuk Paman dan Bibi.

“Om, bisa gak saya bertanya suatu hal?” Bram berbicara sesuatu hari ke pamannya yang terbaring lemas di tempat tidur sempit. Penyakitnya didiagnosa sebagai pneumonia, dan ia harus istirahat keseluruhan di dalam rumah, bila tidak, paru-parunya akan berisi banyak cairan, dan ia akan semakin lemas .

Untungnya keluarga WIjaya murah hati, mereka memikul semua ongkos rumah sakit Om. Sayang itu bermakna Om Akhsan harus stop keseluruhan dari kerjanya. Bila tidak, cuma permasalahan waktu saat sebelum pneumoninya kumat kembali.

“Apa Bram?”
“Yang menggantiin om di dalam rumah pak Wijaya siapa?”
“Ya, tempo hari sang Cipto siap menggantiin, tetapi rupanya gak kerasan. Ucapnya umumnya nganterin, mending membawa kontener ucapnya” kata Om Akhsan lemas.
“Kalau saya saja bagaimana Om?”
“Tujuan lo?”

“Bisa gak, saya menggantiin paman menjadi pengemudi di dalam rumah Wijaya?” bertanya Bram.
“Heh? memang kamu dapat nyetir? ini Mercy lho, sedan, bukan bus.”
“Emangnya Sumber Kencono, om?”
Mereka ketawa bersama-sama.

“Bisalah om, ni simak,” Bram menunjukkan SIM Anya.
“Bram, Saya tidak dapat mengizinkan hal tersebut,” kata Paman secara berat hati.
“karena Om sudah janji sama mendiang Bapak kan? Saya gak dapat simak Bi Ena terus menerus kaya begitu Om, dan lagian kuliahku di BSI hampir usai,” kata Bram kembali.

Pamannya ingat perjanjiannya dengan ayah Bram, saat mereka masih kuliah. Ia janji jika saat ada suatu hal terjadi pada ayah Bram, ia akan bertanggungjawab seutuhnya pada hidup Bram, dan itu bermakna jika ia tidak mungkin memaksakan Bram untuk bekerja, menolong rumah tangganya.
“Paman, saya harus bekerja! Saya betul-betul tidak sampai hati menyaksikan Bi Ena memikul semua sendiri.”
Sepintas mereka berdua menyaksikan ke Bi Ena yang repot menyuapi anak paling kecil mereka. Istri Om Akhsan melihat mereka, dan bagaimana juga kuat seorang lelaki, pandangan itu melelehkan hati Om Akhsan.

“OK, Bram, saya akan menghubungi pak Wijaya untuk menyampaikan kabar penggantiku.”
Rumah keluarga Wijaya di bilangan Pondok Cantik, Jakarta Selatan, benar-benar eksklusif dan benar-benar luas. Bram cuma dapat terpesona menyaksikan isi rumah seperti istana tersebut. Tempat tinggalnya punyai lobi, seperti hotel, dan sebuah mobil eksklusif Mercedes berada di situ.

Bram masuk sesudah dibukakan pintu oleh bi Minah. Kikuk dengan situasi yang masih sama sekali berlainan dengan rumah Om Akhsan, Bram duduk tepekur, sedangkan Pak Philip duduk di depannya sekalian terima telephone dari rekanan usahanya. Sebelumnya, Pak Philip berbicara jika ia sudah mengetahui berkenaan akan hadirnya alternatif Pak Akhsan.

“OK, Bram, kamu mulai bekerja esok pagi. Pekerjaanmu ialah mengantarkan ke-3 anakku dan istriku dimanapun mereka pergi. Kamu bisa bermalam di sini, atau kamu bisa pulang pergi. Tetapi, kamu harus standby di dalam rumah ini start pukul 6 pagi, membersihkan mobil, dan sesudahnya, kamu harus siap kapan saja beberapa anakku atau istriku panggilmu. Itu bila kamu memutuskan untuk pulang pergi.”

“Baik, pak. Om merekomendasikan saya untuk bermalam di sini saja pak. Ini saya telah membawa pakaian penggantinya,” jawab Bram.
“Minah akan mengantarmu ke kamar pengemudi. Minah!” panggil pak Philip ke salah satu pembantu di dalam rumah besar tersebut.
Seorang wanita usia muda dengan riasan simpel selanjutnya ada sambil tersenyum manis ke Bram. “Silahkan mas Bram, saya bantuin angkat barangnya,” kata Minah.

Beberapa hari berjalan cepat dalam minggu tersebut. Bram secara cepat beradaptasi di dalam rumah keluarga Wijaya, sebelumnya setelah kenalan dengan ke-3 anak keluarga Wijaya, yang mengagetkan memiliki personalitas yang benar-benar menggembirakan, tidak sama bayang-bayang Bram sebelumnya mengenai beberapa anak orang kaya yang mungkin tinggi hati, pilih-memilih rekan. Yang paling tua, Sisca, betul-betul individu yang menakjubkan.

Elok, pandai, rendah hati, dan humoris. Steven, nomor dua, betul-betul konyol dan seorang pecinta sepakbola. Tifanny, sang bungsu, betul-betul anak yang manis, penurut, serta lebih sukai main di pada dunianya sendiri. Bram tidak pernah berjumpa dengan istri pak Philip, karena Ibu Patty, panggilan istri pak Philip, lagi ada di Singapura untuk masalah usaha.

Bram jalankan kegiatannya tiap hari, mengantarkan ke-3 anak itu dimanapun mereka ingin pergi , dan harus dianggap, tugas itu betul-betul meletihkan. Sisca, seorang siswi SMA Internasional populer di Jakarta Selatan, tersering pergi bawa mobil, sudah pasti dengan Bram sebagai pengemudinya.
“Mas Bram, kelak tolong anterin Sisca ke hotel P*****n donk, ada acara pesta Prom Night nih,” bujuk Sisca sesuatu sore saat Bram sedang duduk rileks di teras belakang, bercakap dengan Minah.

Sore itu matahari benar-benar cantik, terpancar mendekati terbenam. Cahayanya warna keemasan menerangi figur Sisca yang prima. Kuning langsat, dengan badan yang menarik. Ia kenakan tanktop warna biru muda dengan tali kecil, dengan celana putih super pendek, seperti kesukaannya. Tali BHnya kelihatan di pundaknya. Berwarna biru.

“Begitu saja kok harus tanya sich non. OK dech non, ingin jam berapakah berangkatnya?” bertanya Bram, terlihat terlampau semangat.
“Jam 7 kita pergi ya mas. saya dah pamit ama papah kok.”

Ia selanjutnya duduk jongkok sekalian bermain air di kolam ikan di dekat tempat duduk Bram dan Minah. Bram terkesima. Itu bukan panorama yang disaksikan Bram tiap hari, bahkan juga sepanjang umur Bram. Oh Tuhan, berpikir Bram dengan jantung yang berdegap kuat. Tanpa diakui Sisca, tempatnya membuat belahan dadanya kelihatan. dan itu bukan belahan dada yang umum. Belahan itu dalam, membuat lajur yang panjang dari pangkal dada ke pakaian tanktop. Demikian cantik, dengan kulit kuning langsat tanpa cela. Belahan dada itu bergetar-guncang meng ikuti pergerakan lengan Sisca yang bermain air kolam. Bahkan juga sepintas Bram menyaksikan renda BH Sisca.

Panorama itu sayang tidak berjalan lama. Mendadak Minah bergerak dari tempat duduknya dan ajak Sisca masuk ke rumah. Tidak bagus anak cewek di luar cocok Maghrib, ucapnya.
“mas Bram, Pak Akhsan bagaimana beritanya saat ini?” bertanya Sisca buka pembicaraan. Malam itu Bram mengantarkan Sisca ke Prom Night dalam suatu hotel berkelas di Jakarta Pusat.

Sisca kenakan pakaian malam yang benar-benar eksklusif, dengan mode kemben terusan, dan rok sedikit di atas dengkul. Mode yang cukup pendek, hingga tiap orang tentu bisa menyaksikan keelokan kaki panjang Sisca yang mulus berkilat tersebut. Bram berusaha tidak menyaksikan bukti itu, ingat Sisca ialah anak majikannya.
Lobby Hotel yang berkilau itu sesak penuh dengan beberapa anak ABG tajir yang rayakan Prom Night saat mereka sampai di situ. Mobil yang disupiri Bram stop pas di muka lobby, sesudah ngantri sesaat karena semua anak ABG itu diantar oleh pengemudi atau orangtuanya. Bram segera keluar, dan membuka pintu untuk Sisca, sebuah rutinitas baru yang didalaminya dari Om Akhsan.

Bram benar-benar menyenangi rutinitas baru itu, karena saat ia membuka pintu Sisca, ia menyaksikan lagi panorama cantik yang dilihatnya sore tersebut. Saat Sisca keluar mobil, kaki kirinya mengambil langkah perlahan keluar mobil. kakinya yang jenjang kelihatan terang diterpali lampu lobby hotel yang sangat jelas. Pahanya sepintas kelihatan, betul-betul tanpa cacat cela. Belum juga panorama seterusnya, betul-betul mempesona. Saat Sisca sedikit membungkuk untuk keluar mobil, dadanya yang cuma tertutupi pakaian malam mode kemben membuat lekukan dalam berwujud V kebalik. Renda BHnya melihat dari belahan dada tersebut. kelihatannya BH itu tidak sanggup meredam volume bukit cantik Sisca.

Bram masturbasi malam itu, pertama kalinya dalam sejarah hidupnya …
“Mami, kenalin, ini mas Bram, pengemudi kita yang baru,” kata Tiffany menggeret ibunya.
“Saya Bram bu, alternatif pak Akhsan,” kata Bram sekalian menyalami Bu Patty.
“Hallo,” sapanya singkat.

Bu Patty ialah seorang wanita yang menggambarkan asumsi Bram sejauh ini berkenaan wanita kaya. Glamor, dengan baju yang kelihatan eksklusif, perhiasan yang jelas, dengan make-up yang hebat. Umurnya kelihatannya akhir 40an. Yang membuat bingung Bram, dengan umurnya, Bu Patty benar-benar luarbiasa menarik. Jantung Bram berdegap jencang saat tangan ia sentuh tangan bu Patty. Kulitnya benar-benar lembut, dengan badannya yang demikian wangi, membuat Bram terdiam. Sepanjang umurnya, tidak pernah ia menyaksikan figur wanita semacam itu. Mahfum, orang daerah. Ia kenakan pakaian kerja hem ketat warna pink.

Roknya pendek hanya lutut, tampilkan kaki panjang dengan sepatu hak tinggi.
Seperti narasi Tiffany, bu Patty barusan pulang dari Singapura. Bu Patty selekasnya tinggalkan Bram dan Tiffany, menjumpai beberapa temannya di ruangan tamu. Bram melihat dari dapur, memperhatikan pembicaraan di ruangan tamu. Beberapa teman bu Patty tidak berbeda jauh dari bu Patty. Menawant, glamor, 1/2 baya, tetapi super seksi.

Bram tidak paham kenapa. Mulai sejak itulah terobsesi sama wanita 1/2 baya.
Bram masturbasi malam itu, benar-benar nikmat …
memikirkan bu Patty dengan semua kehalusannya, keharumannya, memikirkan wanita itu keluarkan penis Bram dari celana, mengelusnya dengan tangannya yang halus …

Semenjak bu Patty tiba, aktivitas Bram dikuasai acara mengantar bu Patty dimanapun ia pergi. Ya, dan Bram memperoleh mitra supir baru, mas Yanto yang bekerja mengantarkan beberapa anak.
Pak Philip ingin orang yang dapat dipercayai untuk mengantarkan bu Patty, bukanlah orang baru. Bukanlah apapun, bu Patty kerap bawa beberapa barang bernilai karena pertemanannya. Arisan berlianlah, arisan wisatalah.
Tiap hari ada-ada saja acara bu Patty, mulai dari berjumpa dengan mitra sampai makan malam di restaurant atau hotel eksklusif. Dan benar-benar, mengantar bu Patty betul-betul membuat Bram ketagihan.

Bu Patty memiliki rutinitas kenakan gaun-gaun eksklusif yang seksi, yang ditegaskan selalu tampilkan lekuk badannya, dengan pinggang yang cantik, kaki panjang, dan dada yang membusung cantik. Dada bu Patty dapat disebut spesial, besar, terlihat padat, dan Bram sebelumnya tidak pernah melewati peluang untuk memperhatikannya, baik saat di mobil atau di dalam rumah.

Sebelumnya pernah Sesuatu kali saat Bram mengantarkan bu Patty ke sebuah acara pesta, bu Patty kenakan baju malam warna hitam dengan dengan belahan yang benar-benar rendah, menunjukkan sebagian besar bulatan dadanya. Bram bersumpah, ia menyaksikan sepintas puting susu bu Patty di saat ia keluar mobil. Berwarna merah kecoklat-coklatan, dengan lingkaran sekitaran puting yang warna sama. Bram rasakan penisnya melawan saat itu juga demikian menyaksikan panorama yang menggentarkan tersebut. Penis itu tidak berkurang sampai malamnya mereka lagi ke rumah Wijaya.

Rumah Wijaya kembali sepi sore tersebut. Hari yang dingin, dan hujan yang benar-benar deras. Pak Philip dan ke-3 anaknya pergi ke Hongkong untuk berekreasi, tinggalkan Bram, Minah, dan bu Patty.
Bram duduk di kamarnya seorang diri, melihat TV. Tangannya aktif mengelus penisnya yang tegang sejak dari barusan. Minah telah lelap tidur kecapekan sesudah sepanjang hari menolong packing beberapa anak Wijaya. Semenjak menyaksikan panorama paling akhir itu, Bram jadi terus-terusan terangsang tiap hari, dan selalu pada akhirnya, masturbasi lah sebagai pelarian.

Petir menggelegar. Bram keluar kamarnya dan ke arah ruangan cucian. Ia perlu pemuasan sesudah terangsang terus-terusan. Entahlah setan apa yang merayu dianya, ada sebuah dorongan yang menggerakkan ia pergi ke arah tempat cucian. Dorongan kuat yang membuat dirinya bingung. Ia mulai mencari suatu hal dalam setumpukan baju. Suatu hal yang dapat ia gunakan untuk melepaskan gairah birahinya.
Sesaat, diapun temukannya.

Setumpukan BH dan celana dalam, yang ia mengetahui tentu bukan punya Minah atau Tiffany, karena memiliki bentuk. Bram ambil salah satunya BH. BH itu warna merah berbahan sutra, dengan renda-renda pada bagian cupnya. Tali pundak dan penahan belakangnya kecil, seukur 1 cm. Bram mencium BH tersebut. Berbau wangi Sisca yang unik langsung menyebar. Tangan kiri Bram meraba-raba penisnya yang benar-benar tegang, dan tangan kanannya menggenggam BH itu di muka hidungnya. Bram menciumnya. Sedapp sekali.

Bram betul-betul terangsang. Ia selanjutnya buka celana pendeknya, keluarkan penisnya dan memulai meremas-meremasnya. Ooh, demikian enaknya. Selanjutnya ia mencari kembali. Sebuah celana dalam seksi, dengan potongan pinggang yang lebih tinggi jadi opsinya. Tentu itu punya Bu Patty. Celana itu merah, tipis berbahan sutra yang benar-benar lembut. Rendanya betul-betul membuat Bram terangsang. Renda itu ada pada bagian depan, dan pada bagian elastisnya. Renda pada bagian depan memiliki sisi yang sedikit menembus pandang yang jika digunakan, hampir dipastikan tampilkan bulu-bulu halus vagina wanita. Tangan Bram selekasnya bawa celana dalam itu di depan hidungnya. Bram menghirup bau pesing yang mengejutkannya, tidak membuat ia mual, tetapi menjadi makin terangsang.

Bram mulai mengeluskan celana dalam itu ke penisnya yang benar-benar tegang. Kesan lembut bahan celana dalam itu membuat tidak tahan lama. Sesaat saja, cairan putih lekat melekat di celana dalam tersebut. Sperma Bram. Lega rasanya.
Pengalaman dari itu, Bram ketahui jika bu Patty memakai BH ukuran 36C, dan Sisca 34B.
Esok harinya Minah membersihkan baju-pakaian di ruangan bersihkan. Bram untung. Minah tidak temukan celana dalam yang ditempeli sperma Bram.

Patty bukanlah tidak buta. Pengemudi baru itu, Bram, masih terbilang muda. Tinggi, atletis, kelihatannya Bram memanglah bukan anak daerah umumnya. Dari matanya kelihatan ia orang yang pintar. Bram benar-benar responsif atas perintah Patty.
Patty benar-benar berkesan dengan semua kelakuannya. Pak Akhsan memang sungguh mendidiknya menjadi pengemudi yang bagus. Untuk Patty, memiliki pengemudi yang gentleman menjadi kebanggaan yang bisa dia perlihatkan ke beberapa temannya.

Mendadak Patty menjadi kerap memerhatikan Bram. Bukan tanpa menyengaja. Patty menyaksikan jika Bram juga kerap mencuri-curi pandang ia. Terkadang bila Patty menyaksikan Bram dengan menyengaja, Bram nampaknya langsung malu dan mengalihkan muka. Dan entahlah mengapa Patty rasakan suatu hal lainnya. Ada sesuatu hati yang ia telah lama tidak merasai. Hati diharapkan. Dengan seorang lelaki muda. Patty rasakan badannya menggigil. Sendiri. di tempat tidur super King di dalam kamar intinya. Bukan lantaran kedinginan, tetapi karena gairah. Tidak tertahan. Tangannya menyelip saja dalam hotpants. Cari pelepasan.
Hujan lebat, dengan petir menggelegar.

Patty keluar kamar. Sore itu benar-benar dingin, karena hujan yang demikian deras. Ia perlu menghangatkan dianya satu cangkir coklat. Panas dan manis. I really need that, pikirnya.
Patty tidak begitu perduli dengan pakaian yang dikenainya. Toh, apalagi tidak ada orang di dalam rumah sebesar tersebut. Minah dan Bram berdi belakang, dan mustahil mereka berani masuk ke rumah khusus, di saat Patty cuma sendiri di dalam rumah. Sebuah tank hebat warna pink, ketat, dengan bawahan hotpants. Patty merasa diri benar-benar seksi. Baju kewajiban di dalam rumah, yang dahulu selalu dicintai Philip. Ya, dahulu. Sekarang tak lagi. Philip terlampau repot dengan acara pemerolehan, merger, pengembangan di bidang property, valuta asing.

Patty bergerak ke dapur. Ia menjerang air dalam suatu teko kecil, sekalian ambil coklat di kitchen set, dekat sama ruangan cucian. Dan ia kaget menyaksikan panorama pada tempat cucian. Dari segi dapur, ruangan cucian kelihatan terang, tetapi orang yang di ruangan cucian tentu tidak dapat menyaksikan siapakah yang berada di dapur. Dan Patty menyaksikan sosok badan lelaki. Apa yang ia kerjakan di ruangan cucian pada waktu hujan lebat? Yang jelas tidak untuk membersihkan baju. Sesaat Patty berprasangka buruk.
Ya, itu tentu Bram.

Patty melihat, dan rasakan kakinya menurun, saat menyaksikan apa yang dilaksanakan Bram.
Bram sedang menggenggam celana dalamnya. Bukan hanya itu saja, celana dalam Patty diseka-usapkan, kelihatannya ke penis Bram. Patty tidak dapat menyaksikan secara jelas, karena ia cuma dapat menyaksikan badan Bram dari belakang. Dan badan itu benar-benar badan bagus.

Patty menyaksikan jika Bram memiliki bokong yang benar-benar berotot. Celana Bram turun sampai ke lutut kaki. Ya, Bram sedang bermasturbasi dengan celana dalamnya.
Ooh, rasa itu ada kembali. Patty rasakan putingnya mulai mengeras. Tidak kuat menyaksikan panorama itu, Patty secara tidak sadar mulai meremas-remas dadanya. Pertama kalinya dalam kehidupannya, ia merasa benar-benar terangsang tidak ada seorangpun di dekatnya.

Tangan kanannya telusuri sisi dalam pahanya, selanjutnya masuk perlahan-lahan ke lubang kaki celana hotpantsnya. Tangan yang mendadak mahir itu cari suatu hal yang basah di bawah sana, dan memulai masuk ke dalam dalamnya. Oooh, feels great, really great, berpikir Patty saat tangannya mulai berlaga, menggairahkan benjolan kecil di vaginanya.

Patty makin cepat menggairahkan dianya, sedangkan pada tempat cucian, Bram kelihatannya makin dekati pucuk kepuasan, kelihatan dari tangannya yang makin cepat. Jantung berdegap makin cepat, mata Patty nanar, dan meletuslah orgasmenya. 1x sesudah demikian lama. Kelihatannya Bram juga akan capai ejakulasinya, ketika dari jarak jauh, kelihatan badannya tergetar luar biasa.

Patty berusaha mengontrol badannya sesudah orgasme yang luar biasa. Ia terduduk di muka kitchen set, dan dengar Bram bergerak keluar dari tempat cucian. Saat Bram tidak kelihatan, Patty segera berlari ke arah tempat cucian. Ia ambil celana dalamnya tadi dipakai Bram untuk masturbasi. Celana itu sarat dengan cairan putih bening bau pandan.

Mendadak Patty terpikir dengan teko airnya…
Bram memperhatikan bu Patty. Seringkali dari umumnya. Seolah-olah dunia cuma ada bu Patty. Bram juga merasa jika Bu Patty makin memerhatikan dianya. Menanyakan, berbasa-basi, serta mengobrol sama dia dan Minah ada di belakang rumah. Awalnya tidak pernah sekalinya bu Patty menegur dan ajak bercakap mereka, paling banter cuma panggilan basa-basi saat masuk mobil.

Bukan hanya itu, Bram rasakan jika ada suatu hal yang terjadi dari mereka berdua. Bram sebelumnya pernah berpikiran jika Bu Patty mungkin memikat ia. Saat jalan di muka Bram contohnya, kelihatannya bu Patty melenggok-lenggokkan jalannya secara tidak lumrah.

Bram makin kerap dikasih panorama, panorama cantik persisnya, beberapa bagian badan bu Patty. Awalannya seperti tidak tersengaja oleh bu Patty. Suatu hal jatuh, dan bu Patty ambilnya, pas di muka Bram. Langkah ambilnya juga kelihatannya semakin lama dari umumnya, pastikan jika Bram bisa menyaksikan secara jelas keelokan payudara besar yang berbalut BH berenda yang kelihatannya terlalu kecil untuk volume sebesar tersebut. Satu saat bahkan juga bu Patty menyengaja duduk di atas bangku, saat bercakap bersama Bram dan Minah, menumpangkan kaki. Sudah pasti rok mini itu tidak sanggup tutupi keelokan kaki bu Patty. Cantik, tanpa cacat, putih, dan berkilat. Sampai di suatu saat …

Pagi itu Bram usai mengantarkan pak Philip ke lapangan terbang. Jam tetap memperlihatkan jam 9.00. Beberapa anak telah pergi ke sekolah. Minah repot membersihkan cucian kotor di ruangan cucian, terdengaran suara mesin pencuci yang berisik. Minah tentu tidak dengar Bram masuk garasi. Bram berkemauan. Ini hari atau mungkin tidak sama sekalipun. Logikanya telah lenyap. Ia siap ambil risiko untuk suatu hal yang kemungkinan ia sesalkan sepanjang umur. Tetapi ia harus ambil risiko tersebut. Sekali sepanjang umur. Ia mengambil kantongnya. Dan siap.

Ia segera naik tangga ke lantai dua. Bram tahu tentu, bu Patty belum pergi kerja. Dengan dada yang berdegap kuat, perlahan-lahan Bram dekati pintu kamar khusus, tempat pak Philip dan bu Patty. Pintu tersebut terbuka sedikit. Bram jongkok dan melihat. Dilihatnya bu Patty sedang menyaksikan panorama kebun belakang dari podium. Berikut waktunya. Kepalanya seolah melayang-layang, pusing karena degup jantung yang terlampau keras. Telinganya panas.

Bram perlahan buka pintu, jalan tanpa suara, ia telah tiba ada di belakang bu Patty, tutup mulutnya, sekalian menodongkan sebuah pisau kecil ke pinggang bu Patty.

“Maaf Bu, saya tidak enggan-segan mencederai ibu bila ibu menampik permintaanku,” kata Bram tegang. Sepanjang umurnya, tidak pernah ia lakukan kejahatan, sekecil apapun itu. Tetapi gairah birahi yang demikian tinggi tidak tertahan untuk Bram yang muda tersebut. Badan sintal itu meronta dalam pelukan Bram. Bram menekan pisa kembali unya ke pinggang Bu Patty. Pasti ia berhati-hati sekali tidak untuk menekan dengan segi yang tajam.
“Bu, ingat, sekali ibu berteriak minta bantuan, pisau ini akan tembus badan ibu. Ibu memahami itu?”
“IBU PAHAM ITU?”
Patty menggangguk.

Bram rasakan badan itu menurun dalam pelukannya. dan gemetaran. Tangan Bram melepaskan mulutnya, dan memulai bergerak membelai sisi dada Patty, perlahan-lahan sekali. Tangan itu menyelinap di selang kerah pakaian kerja Patty yang berbelahan cukup rendah.

“Telah lama saya memikirkan saat semacam ini bu,” bisik Bram. Tangan kirinya temukan bongkahan susu yang tertutup half cup bra. Selekasnya saja tangan itu liar meremas. Patty mendesah.
“Bram, kamu ingin apa? Bila uang, saya dapat beri saat ini , berapa saja kamu ingin, tetapi jangan …” suara Patty tergetar. Kurang kuat. Seperti tanpa penampikan yang bermakna.

“Ibu tahu benar apa yang saya ingin …,” bisik Bram. Bram mendadak saja demikian berani.
“Bram, kamu gak akan bisa lolos dari semuanya. Kamu akan masuk penjara lama, saya dapat pastikan hal tersebut. Oohhhhhhh!!!” Patty tetap memberikan ancaman, tetapi suaranya makin kurang kuat, ditambah sesudah ia rasakan jemari Bram memilin puting kanannya.
“Ibu percaya?”

Patty tidak menjawab. Ia rasakan benjolan keras yang melekat di pantatnya yang padat. Ia rasakan embusan napas Bram yang demikian dekat, berdi belakang lehernya. Bulu kuduk Patty langsung tegak. Kakinya lemas. Tetapi ia mengetahui benar, bukan ketakutan kembali yang kuasai, tetapi birahinya. Patty rasakan kegatalan yang hebat di vaginanya.

Bram nampaknya sadar jika korbannya telah berserah. Pisaunya ia jatuhkan, dan ke-2 tangannya juga berlaga lebih jauh. Saat ini ke-2 nya meremas ke-2 bola daging punya Patty, sedangkan Mulutnya dengan garang mencium kuduk Patty, dan mengakibatkan Patty juga mendesah. Ini kali lumayan keras.

Patty yang awalannya menampik, tidak sanggup menjaga penolakannya tersebut. Kepalanya kembali dan menyambut bibir garang Bram, dan tangannya menyongsong ke-2 tangan Bram yang agresif serang ke-2 payudaranya. Pakaian baju yang sebelumnya rapi itu juga terbuka kancingnya, juga BH yang tutup warna hitam yang berada di dalamnya. Ke-2 payudara itu juga saat ini tanpa penghambat.

Tangan Patty bertumpu pada teralis teras yang sempit tersebut. Automatis badannya membungkuk, dan Bram seolah memahami apa yang ia harus kerjakan seterusnya.
Panorama di muka Bram benar-benar memesona. Sesaat Bram mengetahui demikian untungnya ia. Rok mini itu tidak dapat membalut kepadatan pantat Patty, kaki mulus yang tingkatan. Dalam posisi membungkuk itu, garis celana dalamnya tidak terlihat! Apa Patty tidak menggunakan celana dalam?
Tangan Bram pelahan meningkatkan rok mini itu ke atas, munculkan bongkahan bokong cantik. Mendadak tangan Patty meredamnya.

“Bram …”
Bram stop.
“Seharusnya kita stop saja …”
Bram selekasnya menampar bokong bu Patty.
“Ohhhhh! sakitttt!”
“Ibu masih ingin undur sesudah sangat jauh?”
“Jangan Bram … kumohon …”

Tetapi sayang mulut Patty kebalikannya dengan tangannya. Tangannya melepaskan tangan Bram, dan tangan bram dengan bebas meningkatkan rok mini itu, saat ini di pinggang Patty.
Bram baru mengetahui jika bu Patty memakai celana dalam, tetapi kecil sekali, terlihat cuma seperti garis di belahan bokongnya. Nantinya Bram tahu itu namanya thong. Dengan gampangnya Bram merobak celana dalam tersebut.

“ugh,” jerit Bu Patty lirih. air mata menetes di pipinya. Bram tahu ia berkuasa atas badan cantik ini.
Bram buka ikat pinggang celananya, dan celana dalamnya. Penisnya rasakan udara bebas. Tegak keras mengacungkan dengan kepalanya yang berkilat. Urat-uratnya terlihat terang. Saat suara ikat pinggangnya jatuh, spontan bu Patty melihat ke belakang.

“Ooooh, tii..daakk…itu terlampau besar,” sekalian berkali-kali menggelengkan kepalanya.
“Bu Patty, siapakah yang memerintah ibu melihat ke belakang, heh?” Tangan Bram melayang-layang kembali ke bokongnya.
Patty menjerit kecil.
Bram mengelus bokong mulus itu, saat tangannya bersinggungan dengan kulit halus bokong bu Patty.

Tangannya yang kasar terasanya sengatan listrik di badan bu Patty. Bu Patty gemetaran luar biasa.
Bram sentuh sisi dalam paha bu Patty, selanjutnya naik ke vagina bu Patty. Mulut Vagina itu terpajang terang di muka Bram. Tercukur lembut, dengan bukit yang tidak begitu mencolok. Betul-betul sebuah figure yang prima. Tangan Bram membelai vagina itu, jarinya raih lipatan labia yang telah basah itu, dan temukan klitorisnya. Patty menjerit kecil.

Penis Bram berdenyut kuat, seolah-olah satu saat akan muncrat.
Bram tidak kuat. Ia harus masuk sekarang ini. Bram arahkan ujung penisnya ke lipatan vagina bu Patty. ePerlahan, penis itu segera masuk, menerobos ke.

“Bram, pelannn …”
Bu Patty menggoyahkan bokongnya. Bram percaya tersebut. Kepala penis Bram makin gampang masuk ke vagina yang sangat basah tersebut. Demikian semua masuk ke vagina bu Patty, Bram stop. Ia ingin meresapi beberapa momen ini. Kemungkinan yang paling akhir dalam kehidupannya, jika sesudah inilah dipenjara atas dakwaan setubuhian.

Ia terasanya dengar gelegar petir saat selanjutnya dengar suara.
“Bram, ayoo,” bisik bu Patty.
Bram tersadarkan.

Bokongnya mulai bergoyang, mundur-maju perlahan sekali, takut jika bu Patty kesakitan dan berbeda pikiran. Dengan realita jika penisnya demikian peka sesudah tegang lumayan lama.

“Bramm …,” tangan bu Patty raih bokong Bram. Bram memahami jika Bu Patty ingin goyangannya bisa lebih cepat.
Dan terjadi. Dua badan prima bergerak selaras. Bram menggenggam pinggang bu Patty, dan ke-2 tangan bu Patty mencekram kuat kusen jendela podium. Bu Patty mendesah, dengus napasnya makin cepat, seperti Bram.

Dua badan itu bergerak makin cepat. Bram betul-betul nikmati persetubuhan ini, dan ia rasakan jika bu Patty juga. Tangan Bram merangkul ke-2 payudara gempal itu, dan Patty menyambutnya dengan menggenggam tangan kekar tersebut.

Lenguhan bu Patty makin cepat dan mendadak, badan bu Patty tergetar. Bram rasakan renyutan vagina mencekram penisnya. Bu Patty menjerit kecil.
“Ooh, uhm, uhm.”
Bram tahu ia terpenuhi. Bram stop sesaat sampai renyutan itu menurun.
“Lanjutkan Bram, saya tahu kamu belum …,” bisik Patty kurang kuat.

Bram juga memacu lagi, rasakan jika dianya makin dekat. Tidak berapakah lama, Bram juga capai pucuk. Ia ejakulasi. Dalam vagina bu Patty. Bram menarik penisnya yang saat ini lemas tidak memiliki daya. Bu Patty duduk tersimpuh. Kakinya kurang kuat karena orgasme tadi demikian luar biasa. Terlihat cairan cinta mereka berdua menetes di lantai.

Gallery for Cerita Sex Berhubungan Intim Dengan Ibu Patty Majikan Ibuku