Cerita Sex Berhubungan Dengan Cewek Saat Mendapatkan Clien Project Terbesar
Saya bekerja sebagai pendamping di Kampus T. Dalam usia 31 tahun ini, baru saya rasakan hidup bebas, walaupun tidak kaya secara materi. Saat tersebut saya berjumpa dengan M, mahasiswi tahun kedua, usia 21, anak kos asal S. Tinggi tubuh 167 cm, dada dan bokong berisi. Kulit putih bersih tipikal orang Cina. Mata sipit tetapi elok dengan bibir mengembang dan rambut sebahu. Walaupun tertarik, saya sedikit mengharap, kami berlainan suku, agama, dan tingkat ekonomi.

Cersex Keluarga – Keadaan berbeda saat ia mengatakan tertarik bekerja sebagai pendesain untuk project pribadiku. Pikirku, anak orang kaya kok ingin kerja, tidak sama ex-istriku. Harus kuakui, ia punyai talenta seni gambar design yang baik. Saya segera sepakat. Saya cari project, dan ia menyatukan gagasan untuk gambar design ruangan.
Kami mengulas project di universitas sesudah seseorang pulang. Sebagai lelaki yang lama tidak merasa kan nafkah batin, ini betul-betul memikatku. Apalagi kemudian kami kerap bekerja berdua di dalam rumah kontrakanku. Saya punyai 2 karyawan lain, tetapi mereka umumnya bekerja di atas lapangan dan jarang-jarang di dalam rumah.
Saya sukai menyaksikan sisi dada yang putih saat ia menggambar sekalian membungkuk. Ingin rasanya kuremas dan kuhisap puting susunya. Saya kerap jalan ada berada di belakangnya. Ingin kuremas bokongnya yang sedang nungging dan kuselipkan penisku salah satunya. Tetapi saya tidak mau sakiti hatinya.
Hari itulah hampir naik bus kota. Saya terima telephone, saya memperoleh project besar. Ini asal dari client lama karena senang dengan kerja kami. Saya katakan, ini karena jasamu, kami memang team yang solid. Apa kamu ingin menjadi mitra bisnisku seterusnya. Ia cuma tersenyum. Jika lebih dari itu, tanyaku nekad. Diam saja.
Saya terus dekap badannya dan kucium pinggirnya yang mengembang. Ia tidak menampik.
“Apa kamu ketahui background kehidupan”, tanyaku.
Ia menjawab “Ya, S (pegawaiku lainnya) narasi banyak”.
“S banyak bicara”, kataku. “Kamu lalu bagaimanakah”, lanjutku.
Ia katakan, saya tidak perduli, saya sukai orang yang usaha keras. Keluargaku kaya tetapi pada manja, itu penyebabnya saya kuliah di luar kota. Rupanya kami berdua memang sungguh pas
“Apa kamu sebelumnya pernah berpacaran”, tanyaku.
“Belum”, jawabannya.
“Ingin saya ajari”, tantangku. Tanpa menanti jawabnya, saya segera hirup bibirnya dan kugelitik lidahnya.
Saya terus remas bokongnya, nikmat dan padat. Kurapatkan dadaku ke dadanya yang kenyal. kuganjalkan penisku yang telah tegang ke selangkangannya. Ia menjadi gelagapan dan kebingungan. Tangannya meremas-remas dari rambutku sampai punggung dan bokongku.
“Ingin terus”, tanyaku.
Ia katakan, “Jangan…” Saya terus undur, karena saya menghargainya.
Di suatu hari, saya tidak sanggup meredam gairahku kembali. Saat itu malam minggu jam 8-an. Kami mengulas design gambar di rumahku. Entahlah bagaimana kita menjadi berciuman sekalian berdiri dan sama-sama meremas. Ia gunakan rok terusan. Tanganku mengambil ke kembali roknya. Ia menampik terkejut, ini pertama kalinya saya menyentuh badannya langsung. Saya telah nekad, dengan pengalamanku yang banyak saya kalahkan ia. Ke-2 tanganku merogohi dan meremasi pahanya sampai ke atas, perut, dan dada. Kuangkat roknya tinggi-tinggi.
Tubuhnya betul-betul putih dan mulus. Saya tidak pernah menyaksikan panorama semacam ini. Saya berlutut menciumi paha dan perutnya. Ia betul-betul tidak memiliki daya. Kulepas zipper di punggungnya, dengan sekali angkat, lepas rok itu dari badannya. Kulepas BH-nya, kujilati susunya yang montok putih. Kuhisap puting susunya yang perawan, berwarna coklat muda. Tanganku meremas susu satunya dan menggerayangi badannya yang lembut. Kutarik CD-nya sampai ke bawah kaki. Ia terkejut dan katakan jangan.
Tetapi sempat sebelum menghindari, saya segera berlutut. Kujilati lubang kepuasannya dan kugelitik clitorisnya. Rambut kemaluannya lembut, lubang kewanitaannya merah muda dan wangi baunya. Kujejal-jejalkan dan kukorek-korek lidahku dalam lubang kewanitaannya. Cairannya banyak, saya lahap semua. Sementara itu tanganku meremas-remas bokongnya yang putih padat.
Dengan sekali angkat ia telah ada di atas meja gambarku. Ke-2 pahanya mengangkang, sedangkan badanku berdiri salah satunya. Segera kubuka pakaian, celana, dan CD-ku. Kita saat ini sama telanjang. Kakinya terus kuatur melingkar di pinggangku.
Penisku kuarahkan ke lubang senggamanya. Ia tidak sanggup menampik kembali. Dengan mata khawatir, ia melihat penisku yang dekati lubang senggamanya. Saya masukan kepalanya dahulu dan kuayun perlahan-lahan. Ia bergidik dan tambah ngos-ngosan. Kusodokkan lebih dalam , dan kurasakan selaput daranya robek.
Ia menjerit sekalian memperkuat pegangan tangan dan kakinya. Saya stop dahulu untuk memberikan ia kesempata bernapas. Selanjutnya kuayun perlahan-lahan sekalian terus kumasukkan penisku sampai mentok. Ia menyaksikan selangkangannya dengan kagum, baru mengetahui jika penisku telah tenggelam di kedalaman. Selangkanganku yang hitam melekat kuat dengan kepunyaannya yang putih.
Kuayunkan penisku perlahan-lahan. Mata yang sipit tambah sipit karena merem keenakkan. Saya ayun penisku bisa lebih cepat, mulutku mengisap susu dan sembarangan orang berganti-gantian, terima pijatan kuat di pinggul dan bokongnya.
Di depanku ialah badan putih mulus menggelinjang-geliat meredam tekanan badanku yang hitam. Berikut mimpiku dari dahulu. Karena mungkin telah lama tidak terkait, saya merasa kan akan keluar. Saya tahan dengan santai, saya nantikan ia sampai pucuk. Sesaat selanjutnya saya menyaksikan mukanya berbeda meredam nyeri yang besar sekali. “Aduh, aduh”, ucapnya.
Saya mempercepat ayunan penisku sampai meja gambarku berderit-derit. Selanjutnya saya rasakan lahar panas keluar dalam lubang lubang surganya, pas di mulut rahimnya. Ia menjerit sekalian mencakar bahuku. Tubuhku kejang, “aduh M”, kataku, saya keluar.
Kurasakan cairan hangat dari dalam lubang kewanitaannya membasahi penisku dan selangkangan kami berdua. Sangat nikmat, lebih nikmat dibanding ex-istriku dahulu yang berkulit hitam sepertiku. Kemudian kami berangkulan lama di meja gambar. Ia tidak paham apapun.
“Apa kamu geram”, tanyaku.
“Tidak”, ucapnya. Pandangan kami berdua tertumpu pada banyak cairan bersatu darah di meja gambarku.
“Sexnya orang arsitek”, kataku. Kami berdua terus tertawa bersama sekalian berangkulan.
Beberapa hari seterusnya kami isikan dengan acara sex lebih panas. Saya membuka ia langkah KB. Saya jemari ia sejumlah posisi baru. Kami melakukan di kasur tidur, sofa, dan di dalam kamar mandi. Meja gambar telah sebelumnya tidak pernah kami gunakan , terkecuali untuk menggambar tentu saja. Oh, ya saya mengajarkannya felatio. Saya sukai menyaksikan kecupan yang mengembang dan pipinya yang putih mengisap penis hitamku.
2 tahun lalu ia lulus, dan kami terus menikah. orangtua kami tidak sepakat, tetapi kami tidak perduli. Dalam soal agama, ia sepakat mengalah. Dalam saat krismon ini, kami jarang-jarang sekali memperoleh project. Tetapi kami tidak takut, karena kami telah terbiasa hidup simpel dan usaha keras. Kembali juga, kami telah mempunyai banyak tabungan. Sesuatu hari kelak keadaan tentu makin membaik.










