Cerita Sex Pengalaman pertamaku Saat Berhubungan Dengan Ibu Tiriku Yang Bohay
Sekarang saya telah sah memiliki gelar dokter di muka namaku dan sebagai tahapan paling akhir, saya sekarang sedang meng ikuti praktik di puskemas di wilayah terasing sebagai bentuk dedikasi saat sebelum memperoleh ijin praktik umum.

Kumpulan Foto Bokep – Saya dibesarkan di kota kelahiranku sampai SMU dan menjutkan kuliah di Jogja. Keluargaku sebetulnya bukan keluarga broken home, tetapi karena ayahku yang berpoligami menjadi saya cukup jarang-jarang berhubungan dengan ayahku, semakin banyak dengan ibuku dan dua orang adikku.
Seperti banyak orang sukses di kotaku, Ayah ialah seorang pebisnis warung makan lebih dikenali panggilan Warteg. Semenjak saya SMP, ayahku telah mempunyai 2 warteg di kota asalku, 4 di Jakarta dan 2 gerai di Jogja. Dengan bekal keberhasilan tersebut Ayah yang dahulu cuma beristrikan ibuku, mulai membuka cabang di Jakarta dan Jogja. Argumennya simpel: perlu tempat berkunjung waktu mengawasi jalannya usaha. Sebelumnya, saya sebagai anak pertama, jadi anaknya yang melawan poligami Ayah.
Saat itu saya masih duduk di kursi kelas 3 SMU dan Ayah pertamanya kali berpoligami dengan menikah dengan seorang gadis yang umurnya cuma tertaut sepuluh tahun dariku. Tetapi malah ibuku yang menengahi konflikku dengan Ayah dengan argumen classic yakni Ayah telah janji untuk selalu mengongkosi hidup kami dan sebagai jaminannya, 2 warteg di Tegal secara penuh jadi milik Ibu.
Dengan bekal penghasilan dari usaha warteg tersebut, saya dapat kuliah sampai jadi dokter sekarang ini, dan sudah pasti ibuku benar-benar senang karena saya sebagai putra pertamanya sukses berdikari dan jadi contoh buat adik-adikku.
Lantas bagaimanakah dengan konflikku dengan Ayah? Wah, semenjak Ibu telah mengerti Ayah, aku juga telah sebelumnya tidak pernah mengungkitnya kembali. Hubunganku dengan Ayah, bahkan juga dengan 2 istri muda Ayah baik saja. Bahkan juga Ayah meluangkan diri datang dalam wisudaku dahulu.
Istri ke-2 ayah, yang bermakna ibu tiriku, namanya Nurlela, ada di sebuah perumahan di wilayah Bintaro. Hasil dari pernikahan dengan Mama Lela (demikian Ayah menyuruhku panggilnya), Ayah dianugerahi dua orang anak. Sesudah lima tahun menikah dengan Nurlela, Ayah selanjutnya “membuka cabang” kembali di Jogja, ini kali dengan seorang janda beranak satu, namanya Windarti, yang kupanggil dengan Mama Winda, umurnya bahkan juga cuma tertaut enam tahun denganku.
Sebagai seorang lelaki, saya harus jujur untuk mengacung jempol buat Ayah saat pilih istri muda. Ke-2 “gendukan”-nya, walaupun tidak begitu elok, tetapi punyai keserupaan dalam soal bodi, yakni “toge pasar”. Ternyata hasrat ayah meng ikuti trend hasrat pria saat ini yang condong cari “susu” yang montok dan goyangan bokong yang bahenol.
Dari 2 ibu tiriku itu, sudah pasti saya lebih dekat dengan Mama Winda, karena sepanjang saya kuliah di Jogja, tiap bulan akhir saya meluangkan menginap di tempat tinggalnya yang seringkali ditempati Ayah. Mahfum Mama Winda ialah istri paling muda, walaupun dengan status janda.
Buatku sebetulnya benar-benar canggung panggil Winda dengan panggilan Mama, lebih pas jika saya panggilnya Mbak Winda, karena umurnya hanya lebih tua enam tahun dariku. Mukanya manis semestinya orang Jogja, dan yang membuatku kerasan menginap di tempat tinggalnya ialah “toge pasar” sebagai kelebihannya.
Satu saat, saat saya masih kuliah. Seperti umumnya, pada akhir minggu di pekan terakhir, saya bawa sepeda motorku dari kos ke arah rumah Ayah dan Mama Winda. Ternyata waktu itu Ayah sedang “dinas” ke Jakarta, berkunjung Mama Nurlela, hingga cuma ada Mama Winda dan anaknya dari suami pertama kalinya yang berumur lima tahun namanya Yoga. Seperti umumnya juga, saya membawa cokelat buat adik tiriku tersebut.
Saat tiba, saya disongsong oleh Yoga, sedangkan ibunya rupanya sedang mandi. Karena belum mengetahui jika saya tiba, Mama Winda keluar kamar mandi dengan rileksnya cuma berbalut handuk yang cuma “aspel” – asal tempel. Menyaksikan kedatanganku di ruangan tengah, langsung Mama Winda terkejut dan salah kelakuan.
“Eh… ada Mas Kemal..”, serunya sedikit menjerit dan lakukan pergerakan yang keliru hingga handuknya merosot sampai perut hingga payudaranya yang sebesar pepaya tumpah keluar.
“Glek..”, saya menelan ludah dan melihat nanar pada ibu tiriku yang bertoket beringas tersebut. Sangat sayang panorama cantik itu cuma berjalan sesaat karena Mama Winda selekasnya lari ke kamar.
Dadaku berdegap kuat, birahiku langsung naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya saya turut berlari memburu Mama Winda ke kamarnya, menabraknya dan meremas buah dada pepayanya. Sayang saya tidak berani melakukan.
Saya cuma dapat “muram” sekalian bermain-main dengan adik tiriku hingga kemudian si ibu tiri keluar kamar. Tidak tangung-tanggung, ia membuntel badan montoknya yang barusan kusaksikan toket beringasnya dengan baju muslim, komplet dengan hijabnya. Mama Winda setiap harinya memang kenakan hijab. Birahiku langsung “watering down”… layu saat sebelum berkembang.
Sebagai pemuasan, di saat mandi saya meluangkan diri untuk masturbasi, kebenaran ada setumpukan baju dalam kotor punya Mama Winda dalam ember. Awalannya saya ambil bra warna hitam dengan tulisan ukuran 36BB yang mulai menghilang. ‘Pantas besar seperti pepaya’ pikirku memikirkan 2 buah dada besar punya Mama Winda yang sebelumnya sempat kusaksikan beberapa lalu.
Sekalian memikirkan buah dada Mama Winda, saya ambil celana dalam hitam Mama Winda dan menciuminya. Wewangian ciri khas vagina tetap ketinggalan di situ, mengantar masturbasiku dengan sabun mandi hingga kemudian menyemprot sperma pada dinding kamar mandi.
Setelah mandi saya melihat TV bersama Mama Winda dan adik tiriku. Kami mengobrol dekat sampai sekitaran jam 8 adik tiriku meminta didampingi mamanya untuk tidur. Saat sebelum temani anaknya tidur, Mama Winda masuk kamarnya untuk tukar baju tidur baru selanjutnya masuk kamar anaknya.
Sesudah anaknya tidur, Mama Winda keluar kamar dengan baju tidurnya yang masih sama sekali berlainan dengan bajunya barusan sore. Baju muslimnya yang tertutup ganti dengan gaun tidur warna putih yang walaupun tidak tipis tetapi menunjukkan bayang-bayang lekuk badan montoknya, termasuk warna bra dan celana dalamnya yang warna ungu. Kontan birahiku langsung naik kembali.
“Wow… Mbak Winda elok sekali”, pujiku ikhlas pada ibu tiriku yang terlihat elok dengan gaun tidur putih tersebut. Rambut panjangnya terurai cantik menghias muka manisnya.
“Huss… jika Bapakmu tahu, dapat dimarahi kamu, panggil Mbak semua”, serunya cukup ketus namun masih tetap ramah.
“Bapak kembali ngelonin Mama Lela, tidak mungkin ia geram”, pancingku.
“Ih, apa sich luar biasanya sang Lela itu? Saya tidak pernah bertemu”, sergah Mama Winda. Suaranya mulai cukup tinggi.
“Hmm… menurut saya sich… dan Bapak sebelumnya pernah narasi jika ia sukai buah dada Mama Lela yang lebih besar”, sadar pancinganku mengena, saya selekasnya meneruskannya. Walau sebenarnya sudah pasti saya bohong jika bapak sebelumnya pernah narasi, tetapi jika ukuran buah dada, mana kutahu dengan tentu. Yang kutahu buah dada Mama Lela memang besar.
“Oh iya?… “, betul saja, emosi Mama Winda makin meninggi. Dadanya diambil seolah ingin memperlihatkan padaku jika buah dadanya besar.
“Bapak jika di dalam rumah Mama Lela sukai lupa diri, sebelumnya pernah mereka ML di dapur, walau sebenarnya saat itu ada saya”, narasi bohongku bersambung,”mereka asyik doggy model dan tidak sadar jika saya menyaksikan mereka”.
“Edan bener… tentu sang Lela itu gatelan dan tidak paham malu ya?”, sergah Mama Winda dengan emosi.
“Apanya yang gatelan Mbak?”, tanyaku.
“Ya memeknya…. “, karena emosi, Mama Winda tidak perduli perkataan kotor yang keluar mulutnya,”tentu sudah kendor tuch memeknya sang Lela!”
“Jika punyai Mbak tentu masih rapet ya?”, tantangku.
“Tentu dong… saya kan baru punyai anak satu”, kilahnya,”…dan saya kan kerap senam kegel, Bapakmu tidak akan kuat metahan sampai 5 menit, tentu KO”.
“Ya rivalnya sudah tua…, tentu Mbak menang KO terus”, saya terus serang sekalian mendekati Mama Winda hingga kami duduk bersisihan.
“Tujuanmu apa Kemal?”, Mama Winda mulai mengendusi keinginanku. Matanya membalasnya pandangan birahiku pada dianya.
“Sesekali Mbak harus eksperimen dengan anak muda doong”, jawabku mudah sekalian tersenyum.
“Welehh… semakin berani kamu ya?…”, tangannya menepiskan tanganku yang mulai coba menyentuh lengannya.
“Tidak berani ya Mbak?”, tantangku makin berani,”menantang anak muda?”.
“Gendeng kamu… saya ini kan ibu tirimu”, ucapnya berkelit.
“Ibu tiri yang elok dan seksi”, puji dan rayuku.
“Gombal kamu”, serunya dengan muka cukup merah tanda rayuanku mengena.
“Mbak Winda…”, saya terus berusaha,”coba pikirkan Bapak sedang ML sama Mama Lela saat ini dan sementara Mbak Winda ‘nganggur’ di sini”.
“Terus?…”, pancingnya.
“Ya… saya dapat memberi sentuhan dan kepuasan lebih buat Mbak dibanding yang diberi Bapak…”, kataku persuatif.
“Kamu telah edan Kemal”, ibu tiriku masih nyerocos, tetapi tangannya sekarang tidak menampik saat kupegang dan kuarahkan ke penisku yang telah mengeras.
“Mungkin saya memang edan Mbak, tetapi Bapak lebih edan, mungkin ia saat ini sedang nyedot susunya Mama
Lela yang besar… atau sedang jilat-jilat memeknya”, saya terus membakar Mama Winda.
“Huh… Bapakmu tidak sebelumnya pernah jilat memek, ngarang kamu..”, sergahnya.
“Oh iya?… tetapi ia sebelumnya pernah narasi jika di hobi sekali menjilat memek Mama Lela..”, saya terus bohong sementara tanganku telah aktif menarik rok Mama Winda ke atas hingga sekarang pahanya yang montok dan putih telah kelihatan dan kubelai-belai.
“Kamu bohong…”, ucapnya perlahan, suaranya telah bersatu birahi.
“Ih… benar Mbak, Bapak sukai narasi yang demikian pada saya semenjak saya kuliah di kedokteran”, ceritaku.
“Awalannya Bapak ingin ketahui apa klitoris Mama Lela itu normal atau mungkin tidak, karena menurut Bapak, klitoris Mama Lela sebesar jemari telunjuk”. Tanganku makin jauh menyentuh, sampai di selangkangannya yang ditutup celana dalam ungu. Mama Winda sedikitpun tidak memberikan penampikan, bahkan juga matanya makin sayu.
“Setop Kemal, jangan katakan kembali sang Lela sialan itu…,” pintanya,”Jika mengenai saya, Bapakmu narasi apa?”
“Eh… maaf ya Mbak… kata Bapak, memek Mbak cukup becek…”, kataku berbohong,”Sebelumnya pernah Bapak menanyakan pada saya apa perlu dibawa ke dokter”.
“Sialan Bapakmu itu… saat itu kan hanya keputihan biasa”, sergah Mama Winda. Sisi jika gaun tidur putihnya telah terkuak semua, menunjukkan pahanya yang montok dan putih dan gundukan selangkangannya yang tertutup kain segitiga ungu. Benar-benar panorama cantik, ditambah sejumlah lembar pubis (jembut) yang menyodok di tepian celana dalamnya.
“Hmm… coba saya check ya Mbak…”, kataku sambil turunkan muka ke selangkangannya.
“Crup…”, kukecup mesra celana dalam ungu pas di tengah-tengah gundukannya yang telah terlihat sedikit basah. Tersibak wewangian ciri khas vagina Mama Winda yang makin membakar birahiku.
Dengan sedikit tergesa saya menguak tepian celana dalam ungu itu hingga kelihatanlah bibir surgawi Mama Winda yang telah basah… dikitari oleh pubis yang tumbuh cukup liar.
“slrupp…. slrupp..”, tanpa menanti lama saya telah menjulurkan lidahku pada klitoris Mama Winda dan menjilatnya penuh gairah.
Mama Winda menggeliat dan meremas kepalaku,”Kamu…kamu bandel sekali Kemal….okh… okh…”.
“Mengapa saya bandel Mbak… slruppp…”, tanyaku sela gempuran oralku pada vagina Mama Winda.
“Okh…kamu… kamu menjilat memek ibu tirimu…Okhhh….edannn… kamu apakan itilku Kemal…??”, teriaknya saat saya mengulum dan mengisap klitorisnya.
Sekarang 100% saya telah kuasai Mama Winda. Wanita itu telah pasrah padaku, bahkan juga ia menolongku menanggalkan celana dalamnya hingga saya makin gampang lakukan oral sex.
Sekalian terus menjilat, saya masukkan jemari telunjukku ke lubang vaginanya yang telah terbuka dan basah.
“Oooohh…. edannn…. sedap Kemal…”, jeritnya sekalian menggeliat, nikmati jariku yang mulai masuk keluar lubang vaginanya.
Bahasa badan Mama Winda makin mengganas ketika jemari tengahku turut ‘nimbrung’ masuk lubang kepuasannya dengan jemari telunjuk. Jadi tidak sampai 5 menit, saya sukses membuat ibu tiriku berteriak melepaskan orgasmenya.
“Okh….. edannn….saya puassss….okh…..”, badan Mama Winda melejat-lejat selaras pijatan dinding vaginanya pada dua jariku yang ada didalamnya.
Sesudah usai meraih orgasmenya, bahasa badan Mama Winda memberikan signal padaku untuk dipeluk. Aku juga merengkuh dan mencium bibirnya dengan mesra. Ia membalasnya kecupanku dengan penuh semangat.
“Sedap kan Mbak?”, tanyaku basa-basi.
“He’eh…”, ia menggangguk dan terus menciumiku.
“Tetapi saya belum usai periksanya lho Mbak…,” kataku manja.
“He3x… kamu betul-betul calon dokter yang bandel Kemal…,” ia terkekeh suka,”Kamu ingin check apalagi heh?”
“Check ini Mbak…”, kataku sambil meremas buah pepaya yang tetap terbungkus gaun tidur dan bra.
“Ohh… iya tuh… kerap ngilu Dok…”, guraunya,”meminta diremas-remas… he3x…”.
Sesaat selanjutnya Mama Winda telah menanggalkan gaun tidurnya dan mempersilakanku untuk buka bra ungunya yang terlihat tidak mampu meredam besar buah dadanya.
“Hmmm… slrupp… “, dengan penuh gairah saya selekasnya menciumi buah dada besar itu dan mengulum putingnya yang besar. Warna putingnya telah gelap menghias buah dadanya yang cukup kuat. ‘Pantas Bapak ketagihan’ pikirku sekalian terus nikmati buah dada mimpiku tersebut.
“Kemal….”, panggil Mama Winda mesra,”Mana kontolmu?… mari kasih saksikan ibu tirimu ini, hi3x…”.
Saya selekasnya menurut dan melepaskan celana panjang dan sekalian celana dalamku, menunjukkan tangkai penisku yang dari barusan telah mengeras dan mengacungkan ke atas.
“woww… semakin lebih besar punyai kamu Mal… dibanding punyai Bapakmu”, puji Mama Winda sambil memegang penisku. Sesaat selanjutnya ibu tiriku telah mengemut penisku penuh gairah.
“Weleh…. sudah kedut-kedut kontolnya… meminta memek ya?”guraunya,” Sini… masuk memek Mama…”
Mama Winda mengangkang, buka pahanya lebar-lebar di atas sofa tengah, buka jalan penisku masuk lubang surgawinya yang telah becek. Sesudah penisku lakukan penetratif, ke-2 kakinya dirapatkan dan diangkat hingga lubang vaginanya berasa sempit, membuat penisku makin ‘betah’ masuk keluar.
Seperti promo-nya pada awal, Mama Winda kerahkan kekuatannya lakukan kontraksi dinding vagina (kegel) hingga penisku berasa terjepit dan terserap, tetapi seperti telah kuduga, saya bukan type yang gampang ditaklukkan. Saya bahkan juga kembali serang dengan menyeka dan memijit klitorisnya sekalian terus memompa vaginanya.
“Okh… kamu telah pakar ya Kemal?…. kamu kerap ngentot ya…?”, Mama Winda mulai mengelinjang-gelinjang kembali, nikmati permainan penis dan pijatan pada klitorisnya. Makin lama saya rasa dinding-dinding vaginanya makin mengeras tanda ia telah dengan dekat orgasme ke-2 nya. Saya makin percepat kocokan penisku pada vaginanya, berusaha raih orgasme bersama.
“Mbak… saya semprot dalam ya?..” tanyaku basa-basi.
“Semprot Kemal…okh… semprot saja yang banyak…okh….” Mama Winda terus mendesah-desah, mukanya makin cabul. Pada akhirnya ia berteriak lagi.
“Okhhh….. ayo…. okh…. semprot Kemal… semprot memek Mama….”, jeritan kotor, muka mesumnya dan sedotan vaginanya membuatku pun tidak tahan kembali.
“Yesss…..yess….”, aku juga menjerit kecil nikmati orgasmeku dengan semburan mani yang menurutku lumayan banyak ke kandungan Mama Winda, ibu tiriku.
Orgasme yang fantastis itu berjalan nyaris menit dan diakhiri kembali dengan dekapan dan kecupan mesra.
“Terima kasih Kemal…,” ucapnya mesra,”Sedap sekali, hi3x….”
“Sama Mbak, kelak saya kasih obat anti hamil…”, jawabku sekalian menyaksikan lelehan maniku di vaginanya.
“Hi3x… tidak apa lagi… tetapi peju kamu memang sangat banyak nihhh…hi3x…” Mama Winda terkekeh riang menyaksikan lelehan mani putihku di vaginanya.
“Kapan-kapan gunakan kondom ya…. mahasiswa kedokteran kok tidak siap kondom, hi3x….” guraunya.
“Yaa… saya kan alim Mbak… he3x…”
“Ha3x…. berbohong sekali, kamu jago gitu… tentu sudah kerap ngentot ya?…”, tanyanya penuh keinginantahuan.
“Sebelumnya pernah sich sekali dua kali… waktu bermain di Jakarta…” kataku jujur sekalian ingat PSK di panti pijat yang dulu pernah kudatangi di Jakarta.
“Jakarta?… heeee…. jangan2x… kamu…. bermain sama Lela sialan itu, iya???” tatapan matanya berbeda, cukup emosi,”pantes kamu narasi buah dada Lela besar, klitorisnya besar… jangan2x kamu telah bermain sama Lela ya?….”
“Tidak Mbak…. bukan sama Mama Lela… sumpah!” seruku berkelit.
“Awas kamu jika bermain sama Lela…” serunya dengan suara cemburu. Mukanya yang cabul terlihat manja.
“Saya janji tidak bermain sama Mama Lela jika Mbak teratur kasih porsi saya…he3x….”, pintaku manja.
Mama Winda merengkuh dan menciumku mesra,”Baik… jika Bapak tidak ada, saya SMS saya ya….”
“Siip… saya membawa kondom deh…he3x….” kataku riang.
Kami bermesraan hingga kemudian “on” kembali dan meneruskan satu ronde pertarungan saat sebelum pergi tidur. Itu ialah pengalaman pertama kaliku dengan ibu tiriku, dan sudah pasti bukan yang paling akhir. Tiap ada waktu, Mama Winda dengan semangat mengirimi SMS dan saya selekasnya tiba penuhi keinginan binal ibu tiriku.
Bahkan juga karena sangat ‘ngebetnya’, sebelumnya pernah Mama Winda ajak saya berjumpa di luar rumah sebab ada Bapak di dalam rumah. Bagaimana ceritanya? Tunggu edisi selanjutnya di website ngocoks.com yang hendak saya sharing. Penjelajahanku tidak stop pada Mama Winda, karena saya masih mempunyai satu ibu tiri di Jakarta, Mama Lela, yang tidak kalah montok dengan Mama Winda.










