Cerita Sex Berhubungan Intim Dengan Seorang Senior Perawan Tua Yang Sange Dan Brutal
Saya memang biasa makan siang bersama ia, menjadi ajakan ini kali tidak aneh buatku. Tetapi ia ini kali ngajak makan di restaurant yang agak tenang. Umumnya kami selalu memburu makanan sedap tiap jam makan siang. Kami kerap berjumpa bila lakukan pekerjaan liputan. Ia fans makanan sedap, seperti saya.

Cersex Keluarga – “Dik, yok kita jalanan ke Eropa, sekalian liputan, saya kepengin keliling Eropa,” kata mbak Tati.
Ide mbak Tati cukup mengunggahku. Pertama, yang ajak ialah Mbak Tati, wartawati senior, perawan tua. Karena asyik dengan kerjanya sampai usia 35 belum kawin. Walau sebenarnya orangnya ramah, tubuhnya seimbang, kulitnya putih.
Kami beberapakali berpeluang liputan dengan dia ke sejumlah kota dan ada pula ke luar negeri. Tetapi bukan kami jalan berdua tetapi, tapi bersama kelompok reporter. Saya dan mbak Tati cukup dekat, jalinan kami cuma hanya berteman, tidak kurang dari tersebut. Saya benar-benar sebelumnya tidak pernah berpikiran untuk dekati mbak Tati lebih dari teman dekat. Walau sebenarnya peluang itu ada.
Kami sebelumnya pernah tidur sekamar saat lakukan liputan ke Tokyo. Sebenarnya keadaannya tidak seutuhnya semacam itu, tetapi saat saya sedang diterpa sakit di perut, saya pilih ada di kamar tidak mengulas. Ternyata Mbak Tati agak malas , hingga ia juga pilih ada di hotel. Ia pilih ada di kamarku. Tetapi tidak ada peristiwa apapun, karena saya memanglah tidak berpikir ke ngesek, ia juga mungkin demikian. Apalagi perutku mules dan mondar-mandir kongkow di dalam kamar mandi
Ke Eropa, sebetulnya bukanlah hal baru untuk ku mungkin saja untuk Mbak Tati, Saya sebelumnya pernah ke Prancis, Austria, Swiss dan Jerman. Semua perjalananku cuma hanya pekerjaan publisistik . Maka sedikit waktu untuk jalanan. Peluang di antara lawatan itu, paling-paling cuma menyaksikan sejumlah tempat populer dan tentu saja cari suatu hal untuk di membeli. Itu bermakna keliling ke pusat-pusat perbelanjaan. Ajakan Mbak Tati ini lumayan menarik.
Ada banyak hal yang ingin kusaksikan mungkin saja merasakannya. Saat kutanya Mbak Tati apa yang ingin disaksikan di Eropa, ia tidak secara detil mengatakan. Ia cuma inginkan jalanan tur. Ia ucapnya sempat juga ke Eropa seringkali seperti ke Belanda, Inggris dan Swiss, tetapi semua itu tidak dapat dicicipi seutuhnya karena dalam rencana peliputan. Saya pahaminya, karena saya juga begitu. Ia ingin bebas tidak terlilit waktu dan nikmati alam Eropa. Saya diputuskannya karena ia merasa pas bila jalan denganku. Mbak Tati bila jalan keluar kota atau keluar negeri, bila ada waktu senggang memang menggamitku untuk temaninya. Bahkan juga saat ia ingin berdisko di Kuta Bali saat kami sedang mengulas di situ, ia ajakku .
Tersebut sedikit deskripsi kearabanku dengan mbak Tati. Saya menjadi teman dekatnya yang terdekat, ia memandang saya yang saat itu berusia 28 tahun sebagai adiknya.
Kami sama bekerja di media massa Hanya berbeda media massa.
Mbak Tati lantas memaparkan gagasannya keliling Eropa, ia ingin ke Belanda, Prancis, Jerman dan sejumlah negara yang lain. Kami share pekerjaan. Ia membuat taktik supaya kami dapat memperoleh penempatan dari kantor untuk jalan ke Eropa. Dan saya membuat gagasan dan pilih beberapa tempat yang memikat buat didatangi.
Tidak gampang untuk kami untuk mendapatkan ijin dari kantor lakukan liputan ke luar negeri, tapi Mbak Tati punyai strategi agar ijin. Bila kejadiannya tidak benar-benar menarik, karena itu tidak mungkin kantor kami mengirimi kami ke situ. Apalagi ongkos untuk peliputan ke luar negeri, lumayan besar.
Mbak Tati dengan semangat pastikan jika saya perlu memperlengkapi diri uang belanja saja. Masalah ongkos yang lainnya akan diupayakan Mbak Tati.
Ia merekomendasikan mulai menabung dari sekarang ini. Gagasannya perjalanan itu di bulan Juli tahun depannya.
Taktik Mbak Tati saya acungi jempol. Ia cari sesuatu acara yang pantas diliput dan kantor kami kemungkinan akan menyepakati untuk diliput. Beberapa acara itu seperti Pertemuan Tingkat Tinggi, atau pameran internasional, atau acara apa pun itu yang kuat hubungannya dengan kebutuhan Indonesia.
Mbak Tati memang terampil, dalam tiga hari ia telah sukses kumpulkan beberapa acara besar di bulan Juli di Eropa. Kami lantas berunding untuk memisah dan tentukan acara apa yang hendak kami liput. Opsi jatuh pada pameran mebel internasional di Paris. Saat sebelum kami memutuskan untuk mengulas acara itu, kami lantas mengontak sejumlah pebisnis besar mebel di Jakarta. Sebagian dari mereka rupanya merencanakan turut dalam pameran itu, karena pameran itu dipandang banyak konsumen prospektif dari semua Eropa.
Mbak Tati saya mengakui memang reporter yang lincah dan inovatif. Belum sampai satu bulan semenjak perbincangan kami di restoran hari itu, ia telah kantongi komitment ticket dan hotel dari calon peserta pameran dari Indonesia.
Beberapa pebisnis itu semangat keikutsertaan mereka mendapatkan liputan dari media nasional, karena itu mereka dengan suka hati sediakan ticket pesawat, hotel, transportasi dan konsumsi sepanjang mereka berpameran.
Ticket dan hotel itu tidak cuma buat dia, tapi juga bagiku. Amanlah, ticket dan hotel telah ditangan, permasalahannya tinggal kami kumpulkan untuk uang belanja. Saya dan Mbak Tati pada akhirnya jadi anggota delegasi untuk pameran ke Paris. Dengan bekal itu, kami dapat bebas pajak di airport.
Kami bidik dalam satu tahun ini dapat terkumpul masing-masing kami 2 ribu dolar. Jumlah yang cukup besar di Indonesia, tapi jika digunakan pelesiran mungkin tidak besar. Memadailah.
Kami apply untuk peliputan ke panitia pameran di Paris, Prancis. Semua penyiapan telah rapi, tinggal apply visa dan ijin dari kantor. Waktunya masih panjang menjadi kami tidak butuh ajukan perjalanan itu ke kantor kami masing-masing.
Untuk jalan keliling Eropa, minimum harus kuasai bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Saya mengajukan usul Mbak Tati untuk belajar bahasa Eropa lewat pelatihan. Ia sepakat dan pilih belajar bahasa Prancis. Saya pilih bahasa Jerman. Bahasa Inggris tentu saja telah kami kuasai lah.
Agenda perjalanan telah usai saya atur. Draft perjalanan ini telah lebih dari 10 kali berbeda karena beragam kemauan dan rekonsilasi pada tempat tujuan. Sebelumnya saya sontek dari acara tur dari travel agen. Tetapi sesudah kupelajari beberapa tempat yang didatangi, berasa kurang memikat. Saya dan Mbak Tati tentu saja tidak butuh bertandang ke beberapa tempat seperti jika di Jakarta, Dufan, Taman Mini, Taman Mekarsari atau ke Monas. Kami ingin lebih menyelami kehidupan warga di berapakah tempat di Eropa, yang pasti berbeda jauh dengan kehidupan di Asia.
Sejak awal kali terima ajakan mbak Tati, saya sebetulnya telah merendam kemauan untuk berkunjung tempat nudist. Saya bukan ingin menyaksikan orang telanjang hanya, tapi ingin rasakan, bagaimana sich rasanya telanjang secara bebas. Ide ini pada akhirnya saya sampaikan ke Mbak Tati, dengan agak malu. Ia awalnya kurang sepakat, karena ia belum siap turut jadi nudis. Tetapi kuyakinkan jika pada tempat nudis, tidak butuh harus juga turut nudis. Di sejumlah tempat dibolehkan masih tetap menggunakan bikini. Saya berargumen jika hingga kini tidak ada media di Indonesia yang membuat reportase berkenaan nudis. Ternyata liputan yang akan exclusive itu mengelitik Mbak Tati. ” Iya ya tidak pernah saya baca laporan dari wilayah nudis oleh reporter Indonesia,” kata mbak Tati.
Pada akhirnya ia sepakat. Saya lantas memikirkan akan menyaksikan mbak Tati bugil. Mbak Tati sebetulnya bukan wanita yang termasuk kurang memikat. Mukanya rerata saja, tapi jika semakin lama diperhatikan banyak pula yang memikat darinya. Mukanya ayu ciri khas Jawa, tubuhnya berisi dan hampir over weight.
Sesudah oke mendekati tiga bulan pemberangkatan kami ajukan permintaan visa ke Kedutaan Prancis. Dengan alasan lakukan liputan, pada akhirnya kami mendapatkan visa Schengen tidak ada kewalahan yang bermakna.
Ijin dari kantor telah ditangan, bahkan juga kami telah atur, usai acara liputan kami segera cuti 12 hari. Praktiknya kami cuti 15 hari sebab ada dua hari minggu dan satu hari tanggal merah. Untuk acara peliputan sendiri ialah 4 hari . Maka termasuk perjalanan pulang pergi kami lakukan perjalanan 21 hari.
Di hari H kami janji bertemu langsung di Terminal 2D Soekarno Hatta. Rupanya cuma kami berdua yang statusnya reporter, selainnya ada sekitaran 20 orang ialah beberapa pebisnis furniture yang turut di pameran tersebut.
Saya sukses kumpulkan 2000 dolar, bahkan juga kantor tetap memberikan tambahan 500 dolar.
Sesampainya pada tempat tujuan, rupanya saya dan Mbak Tati tinggal sekamar. Saya khawatir tetapi senang juga. Khawatir sebab bisa memunculkan issu antara pebisnis furniture kelompok kami, tetapi senang juga karena ya sekamar, menjadi komunikasi lebih lancar. Yang membuat saya kikuk dan tidak sedap hati ialah tempat tidur di dalam kamar kami cuman satu bed yang lebih lebar. Saya telah mengurusi ke front office, tetapi ucapnya hotel penuh, menjadi tidak dapat ganti kamar.
Mbak Tati tidak mempermasalahkan , ia justru diam-diam saja. Untuk kurangi rasa risi dan kikuk, saya candai ia jika mulai malam hari ini menjadi suami istri yang tidur satu selimut. Mbak Tati cuma senyuman mesem.
Malam pertama dan malam ke-2 tidak ada peristiwa penting untuk dikisahkan. Kami tidur dengan damai dan aku juga tidak berusaha memperkeruhkan situasi.
Karena mungkin telah terlatih, Mbak Tati menjadi lebih rileks. Baju dalamnya kerap dibeber-beber di atas tempat tidur tanpa rikuh. Terkadang justru lalu-lalang cuma berbalut handuk hotel. Jika menyaksikan itu saya menjadi kesengsem , pahanya terlihat tebel dan lipatan buah dadanya benar-benar menarik. Pantatnya sangat menarik, karena mencolok sekali..
Kesanku Mbak Tati melanjutkan kesukaannya di rumah dalam soal ingin dan setelah mandi. Saya memang dia anggap anak kecil yang tidak butuh harus malu padaku.
Saya semestinya memang siap sampai dengan tingkat menyaksikan mbak Tati telanjang.
Pada malam ke-3 , atau malam paling akhir kami di Paris, saya main-main bicara ke mbak Tati. ” Mbak saya bisa tidak latihan nudis,”
“Latihan, bagaimana dik, kamu ini ada saja, koq pakai latihan ” ucapnya.
Saya menjelaskan jika malam hari ini saya coba nudis di dalam kamar dan tidur juga nudis. Saya menawarkan ke Mbak Tati, jika ia ingin turut latihan ya monggo. “Ah saya kelak saja ah jika sudah ditempatnya, masak di sini, kan kamarnya dingin, jika telanjang kan tambah dingin ,” ucapnya.
Sehabis pulang kami dari liputan kami lantas kembali lagi ke hotel. Acara jalanan keliling Paris, sudah jemu. Semua mahal-mahal. Saya segera kekamar mandi. Selainnya kepingin bab, saya ingin mandi.
Dari kamar mandi, saya keluar demikian saja telanjang sekalian menyeka-usap handuk. mBak Tati terkejut menyaksikan saya bugil. ” Kamu seperti orang edan yang jalanan telanjang di Jakarta,” ejek mbak Tati.
Untungnya penisku tidak berdiri, karena di dalam kamar mandi barusan telah saya paksakan keluar spermanya supaya adiku yang ini anteng.
Jujur saja rasanya dalam hati saya cemas, malu dan lain-lain untuk mengawali telanjang. Tetapi semua itu saya tangkal. ” Jika seseorang dapat, mengapa saya tidak,” demikian kemauanku.
Saya menyengaja mondar-mandir di dalam kamar, membuat kopi, memanasi air untuk membuat mi instant lantas duduk sekalian menonton TV.
Saya bebas saat mbak Tati di dalam kamar mandi. Keluar kamar mandi ia ngotot cuma kenakan celana dalam. Buset teteknya rupanya besar sekali, gundal-gandul.
Untung saya kembali duduk sekalian mengusung kaki, hingga penisku yang berdiri perlahan-lahan menjadi tidak terlihat. “Begitu donk mbak, menjadi kita kelak terlatih,” kataku.
“Ah kamu yang sedap simak saya telanjang, ” kata mbak Tati sekalian mondar-mandir membenahi pakaian dan memasukkan ke koper.
“Saya tidak sangka jika tetek mbak rupanya besar dan bagus ,” kataku beri pujian.
Itil V3
Disanjung demikian Mbak Tati cuma melihat ke arahku sekalian memonyongkan mulutnya.
Mbak Tati selanjutnya berdiri dan mengecek celana dalamnya. Ia seperti membenarkan tempat suatu hal didalamnya. “Mbak kembali dapat ya,” tanyaku semaunya.
“Iya nih tinggal sedikit, mungkin hari akhir,” ucapnya.
Mbak Tati lantas jalan senaknya, dengan gunakan CD. Aku juga berusaha cuek saja, tidak memerhatikan susunya. Ia juga seperti tidak memerhatikan penisku yang pada akhirnya kuyu kedinginan.
Saya masuk ke dalam bawah selimut karena AC kamar dingin sekali. Saya telah mematikan semenjak barusan, tapi tersisa dingin AC awalnya tetap menusuk.
Sekalian berbaring saya berselimut dan melihat TV.
Betul-betul luar biasa, kami tidur satu selimut berdua pada kondisi telanjang (mbak Tati hampir telanjang sich), tapi tidak ada apapun. Saya tidak yakin andaikan ada yang narasi ini ke saya.
Pagi-pagi saya segera masuk kamar mandi dan bab lantas mandi. Takut berbau, saya bab sekalian merokok. Mandi cepat-cepat sekalian keramas. Di dalam kamar mandi udaranya dingin sich. Saya lantas keringkan tubuh dengan handuk. Mendadak masuk Mbak Ratih tergopoh-gopoh ia lantas duduk di toilet dan kedengarlah desisan sinaran air seni. Ku ejek, “siulannya dapat dilaguin tidak”
“Jangan ngeledek, gua kembali kepingin sekali nih,” ucapnya.
Sesudah pipisnya surut, dibukanya celananya. Ia memerhatikan pembalutnya cuma ada bintik coklat sedikit.
Tanpa basa-basi, Mbak Tati masuk ke dalam bath tub dan menyirami semua badannya termasuk rambutnya sama air hangat. Saya yang gosok gigi menyaksikan dari refleksi cermin jika jembut Mbak Tati rupanya tebal sekali.
Mbak Tati meminta saya menyabuni punggungnya. Saya menurutinya dan bertanya sisi mana. Ia katakan ” Sedap saja, sudah ah, punggung saja. ”
Tubuhnya halus dengan susunan lemak. Penisku menjadi bangun. Mbak Tati mengejek, “wah itu burung bangunnya kesiangan,” ucapnya. Perkataan secara singkat itu justru membuatku ingin tahu. Apa kurang lebih tujuan dibalik kata-kata tersebut. Apa yang ia tujuankan jika saya tidak berani ambil ide mencumbunya, atau memang makna yang harafiah. Daripada salah, laebih baik saya dipandang tidak berani ambil ide. Opsi ini kuanggap terbaik, karena jika saya memiliki inisiatif, jika ia tidak dapat terima, dan saya dipandang menangguk di air kotor, mengakibatkan dapat runyam. Faktanya barusan waktu akusabuni ia tidak menizinkanku untuk menyentuh badannya lebih jauh. Pada akhirnya saya menjawab dengan lagak bodok. “Dari barusan sudah bangun, dan tidur , karena simak mbak sich ia menjadi geram,” kataku.
Saya cuek saja seperti tidak inginkan apapun. Usai gosok gigi saya segera ngloyor keluar dan membuat makan pagi sekalian masih tetap telanjang.
Mbak Tati keluar kamar mandi telanjang bundar ternyata. Ia pilih-milih pakaian lantas digunakannya satu-satu. Seakan-akan ia di dalam kamar sendiri hingga tidak kelihatan ada rasa malunya. Karena ia berlaku demikian, saya juga coba berlaku yang masih sama.
Kami lantas bersiap-sedia chek out.
Kami memakai kereta cepat TGV dari stasiun Paris Gare Lyon yang pergi jam 11.54 siang dan sampai di Lyon sekitaran jam 2 siang. Kereta cepat kebanggaan Prancis memang hebat, dalamnya seperti pesawat terbang. Kami beli ticket eurail dari Jakarta, menjadi cukup murah. Tetapi itu juga harga nyaris sama dengan harga ticket pesawat Jakarta – Surabaya.
Ini hari kami mengawali penelusuran keliling eropa. Repotnya sebagai reporter jika jalanan perlu banyak nyatat dan mengambil photo. Kami memang berniat membuat tulisan dari perjalanan ini. Mengambil photo harus juga extra berhati-hati. Saksikan kanan kiri dahulu, kurang lebih aneh tidak jika saya mememfoto di sini. Di zaman keraguan pada teroris ini membuat saya selalu siaga dan sadar lingkungan. Lyon sebetulnya bukan kota wisatawan. Tetapi begitu juga kota ini menurut penilaianku benar-benar cantik. Sejarahnya yang panjang semenjak saat sebelum masehi, adalah daya magnet kota ini. Banyak bangunan-bangunan cantik monumental.
Semenjak datang di stasiun saya dan mbak Tati langsung ke arah hotel murahan yang telah kami pesan dari internet. Kami memang berkemauan menjadi tourist backpacker. Tempatnya memang tidak begitu di tengah-tengah kota, tetapi lumayanlah masih gampang dicari. Untungnya Mbak Tati sudah dapat bahasa Prancis, menjadi nanya-nanya tidak terlampau sulit.
Saya berkesan, kota ini banyak ditemui golongan muda, karena mungkin kota siswa ke-2 paling besar di Prancis.
Kami tempati kamar yang didalamnya delapan orang dengan 4 bed bertingkat. Wisatawan laki wanita digabung satu kamar. Saya dan mbak Tati tempati satu bed bertingkat, saya di atas dan ia di bawah. Ransel kami titipkan di locker, dan kami jalanan dengan memakai metro. Di tengah-tengah kota, banyak sepeda di sewakan. Antiknya bila memakai sepeda kurang dari 30 menit tidak butuh bayar. Beberapa orang bolak kembali tuker sepeda, tetapi saya dan mbak Tati, lebih sukai jujur saja kami berkeliling-keliling dengan sepeda di sekitar Quai St. Antoine.
Program kami singgah di Lyon cuma 1 malam, karena ada banyak yang ingin kami cicipi. Banyak pula sich narasi berkenaan Lyon, tetapi di kesempatan lain sajalah saya menceritakan.
Kami tinggalkan Lyon dengan kereta TGV ke arah Montpellier. Sampai di kota yang saya mengatakan kota peler. Nyaris 2 jam perjalanan dari Lyon ke kota Peler ini kami menempuh. Sesampainya di stasiun Montpellier St-roch, kami cari informasi rental mobil. Pada akhirnya kami memperoleh rental mobil Fiat Panda. Cukup mobilnya tidak besar. Dengan bekal peta dan tentu saja GPS, perjalanan menjadi lebih gampang dan menggembirakan. Gagasannya mobil ini akan kami sewa tiga hari dan kami membawa sampai ke Cap d’agde. Sebenarnya menggembirakan rental mobil sekalian berkeliling-keliling Eropa, tapi memakan waktu lama dan perlu stamina. Kami memutuskan untuk menggunakan mobil carteran berkeliling-keliling ke beberapa kota kecil. Perjalanan jarak jauh memercayakan kereta cepat.
Muter-muter di kota peler sampai sore, lantas saya arahkan ke Cap d.agde. Sekitaran jam 8 malam kami sampai di kota telanjang paling besar di dunia.
Karena situasi mulai gelap, karena itu kota telanjang itu saat kami datang , tidak ada yang telanjang hilir mudik. Kami sudah pesan kamar di Hotel Ave, salah satu hotel di tempat nudis.
Proses chek ini tidak begitu lama, kami lantas dikasih kunci untuk kamar yang kami pesan. Hotel Eve sebetulnya bukan lah hotel yang eksklusif, karena kamarnya termasuk kecil. Biayanya cukup lumayan tinggi, tetapi kami tentukan karena ingin rasakan dan menyaksikan tertelanjangan.
Di luar wilayah nudis banyak sich hotel yang tambah murah, tapi jika kami ingin ke wilayah nudis harus jalan lumayan jauh.
Tidak ada istilah lelah, demikian barang ditempatkan di dalam kamar, saya lantas ajak mbak Tati untu nikmati kehidupan malam. Kota ini betul-betul bebas. Ada bar khusus untuk Gay, Lesbian bahkan juga swinger. Walau mereka yang mondar mandir saat malam ini kenakan pakaian, tapi cuma tutupi aurat ala-ala kandungannya saja. Banyak kusaksikan cewek dan pasangannya cuma gunakan celana G string dan ditutup kain seperti jala ikan dan dadanya ditutup pakaian tipis, hingga pentilnya dapat menembus pandang.
Saya menjadi terpikir narasi Sodom dan Gomorah. Mungkin keadaan kota itu dahulu semacam ini. Tidak ada kamus malu di aplikasikan di kota ini. Usai melahap makan malam, Saya dan mbak Tati main-main jalanan ke pantai yang agak gelap. Di situ banyak ternyata aktivitas. Pasangan bule-bule edan dengan bebasnya lakukan cumbuan bahkan juga banyak yang sedang ngenti pada tempat terbuka. Bukan mereka yang malu, justru kami yang malu, hingga kami tidak dapat semakin lama ada di sana.
Saya ajak mbak Tati kembali lagi ke pusat keramaian dan cari bar untuk nikmati seteguk dua teguk bir.
Jam 12 malam, mata sudah mulai berat, kami kembali lagi ke kamar hotel. Kepalaku cukup berat, mungkin dampak bir barusan, tetapi tetap sehat sich. Saya bertelanjang lagi lantas masuk ke dalam bawah selimut. Mbak Tati di dalam kamar mandi lama benar.
Saya lupa bercerita jika kamar yang kami pesan ini tidak ada AC nya, ini untuk memburu harga yang murah. Kupikir ngapain pakai AC, orang telanjang kan tidak butuh AC . Maka baru sesaat berselimut menjadi panas. Selimut saya membuka. Dan saya berbaring sekalian menonton TV. Awalnya sekalian tidur miring, tetapi kurang nyaman karena TV nya ada pada bagian kaki. Saya mau tak mau menyandar bantal pada bagian kepala menjadi tempatnya kepala cukup tinggi. Masalahnya ialah penisku berdiri. Entahlah karena dampak panorama sepanjang kami keluar barusan atau karena alkohol, atau karena sudah sekian hari tidak dikeluarin hingga spermanya sudah penuh. Sebenarnya saya malu, tapi lantas berpikiran, ngapain malu, hidup bertelanjang kan apa yang ada, jika berdiri yang manusiawilah, biarin saja.
Saya berusaha rileks, “tetapi tegang” saat mbak Tati keluar kamar mandi. Ia juga rupanya ingin tidur sekalian telanjang . Maka dari kamar mandi sudah gundal-gandul tuch tetek besarnya. ” Mbak susunya apa tidak dapat dititipin di locker room, kan berat dibawa ke mana saja,” ejekku menyaksikan tetek besarnya.
“Ngawur saja, emangnya dapat dicabut, lha kamu apa tidak ngganggu tuch ekor terpasang di muka, sana gih titipin ke locker jika dapat “kata mbak Tati cukup seru tetapi dengan suara bergurau.
Mbak Tatik lantas duduk di sampingku bersila. Ia ngemil buah. Orang ini suka sekali ngemil. Stok makanannya berbagai macam.
“Ngapain tuch buntutnya kok berdiri,” kata mbak Tati.
“Tidak tahu dari barusan susah sekali dijinakkan, ” kata ku sekenanya.
” Sini gua singgung agar tidur,” ucapnya sekalian ancang-ancang ingin menyinggung. Saya sudah pasti berusaha membuat perlindungan penisku supaya tidak betul-betul di singgung.
“Jangan disinggung donk mbak, apa tidak kasian, diakan meminta disayang,” kataku agak menghiba.
” Ya sudah sini saya elus-elus agar cepat tidur,” kata mbak Tati sekalian dekatkan posisi duduknya ke penisku.
Saya diam saja sekalian menanti apa sich yang ingin dilaksanakan mbak Tati. Pada aparatku. Ia betul-betul mencapai penisku lantas memang sungguh dielus-elus. Mendapatkan sentuhan itu, langsung tubuhku merasa kemerenyeng (tidak ada bahasa Indonesianya sich).
Saya lantas mendesis, memang sentuhannya rasanya sedap sekali. Tidak mungkin sang Boy dapat tidur dielus-elus demikian, ia justru semakin mengeras. Karena nikmatnya saya tidurnya menjadi merosot. Mbak Tati selanjutnya tidak cuma mengelus justru mencekram. Ia gemes ucapnya hingga batangku diremas-remas. Saya menjadi semakin kenikmatan. ” Aduh mbak sedap sekali,” kataku.
Saya tidak perduli, apa yang kurasakan ku gesturkan dengan desahan-desahan.
Saya lantas seperti mengingau menjelaskan,” mbak jangan diremes doang donk ia meminta lebih disayang, ia meminta di cium tuch,” kataku.
“Lha kok justru nglunjak,” kata mbak Tati.
Tetapi ia selanjutnya dekatkan mulutnya dan memulai menciumi barangku. Edan rasanya semakin syur. Saya telah merasakan tidak ada jarak kembali dengan mbak Tati.Ia kuminta melumat penisku. Mungkin ia terangsang hingga permintaanku selekasnya disanggupinya. Barangku dilumatnya dan mulutnya mundur-maju di penisku. Pertahananku rasanya nyaris bobol. Mbak Tati kuminta melepaskan kulumannya dan saya selekasnya membungkam kepala penisku dan melejitlah cairan kental putih keluar ujungnya. Saya jaga janganlah sampai air maniku tumpah ke bed, hingga demikian selesai ejakulasi saya cepat-cepat ke kamar mandi membersihkan.
Keluar kamar mandi penisku telah berkurang kemelutnya. Kepalaku menjadi enteng dan semua sumbatan birahi telah plong rasanya.
Mbak Tati masih duduk bersila, dan kembali ngemil. Kudekati ia dan kurangkul ia sekalian kuciumi pipinya. ” Mbak terima kasih ya saya telah plong dech rasanya,” kataku.
Ia diam saja dan rasanya tubuhnya melemas dan merebahkan berat tubuhnya ke badanku. Kurangkul ia dan kubaringkan. Saya menciumi keningnya, pipinya lantas perlahan-lahan mulutku ke arah mulutnya. Saat mulut kami berjumpa di membalasnya lumatanku.
Tanganku automatis bergerak ke gumpalan yang gundal-gandul. Telapak tanganku tidaklah cukup mengkover tetek mbak Tati. Jariku menari dan memilin-milin pentilnya yang tidak besar.
Saya menciumi lehernya dan perlahan-lahan tempat mulai mengisap ke-2 puting susunya. Mbak Tati mendesah sekalian berbicara, ” aduh dik sedap dik.”
Tanganku mulai mencapai gawuknya yang lebat. Kuraba cukup ngambang untuk rasakan begitu lebatnya sang jembi di bawah sana. Selanjutnya jemari tengahku masuk cukup kedalam cari belahan. Belahan itu berasa telah cukup basah. Dengan perlahan-lahan jemari tengahku cari tempat clitoris. Berasa ada tonjolan cukup mengeras di atas lipatan. Saya membasahi jariku dengan lendir yang keluar vagina mbak Tati lantas kubasahi clitorisnya dan kugesek perlahan-lahan-pelan.
Mbak Tati menggeliat setiap clitorisnya terjamah. Kecupanku mulai ke arah perut dan perlahan-lahan ke arah vagina. Mendekati nyaris sampai ke bawah, kepalaku ditahannya. ” Dik ingin diapain dik, mbak malu ah, ‘katanya sekalian meredam kepalaku supaya tidak turun lebih ke bawah .
Tetapi saya merasa penahanan tangannya tidak begitu ngekang, hingga saya masih tetap dapat melanjutkan misiku. Lidahku kujulurkan dan ujungnya masuk langsung kebelahan kemaluannya. Demikian lidahku datang di situ mbak Tati langsung menjerit lirih. Jeritan nikmat.
Lidahku berusaha menjumpai clitoris dan pada akhirnya bertemu . Namun jembut yang lebat cukup mengusik, hingga gempuranku kurang mulus. Tetapi saya memberikan tempo sesaat, sampai Mbak Tati menurun kesadaran malunya.
Sesudah saya percaya ia betul-betul terangsang, karena itu ke-2 tanganku berusaha buka jalan dengan menyibakkan dua segi vaginanya dan bersihkan halangan bulu supaya lidahku bisa terlepas menjumpai clitoris.Saya lantas membungkamkan mulutku ke sisi atas vaginanya dan lidahku mulai menari-nari di ujung clitoris yang semakin membesar.
Mbak Tati telah kelojotan tidak karuan rasakan nikmat dari pembahasan lidahku di clitorisnya. Saya terus-terusan serang tanpa memberikan interval dan gempuran terpusat ke satu titik. Selang beberapa saat tubuh mbak Tati menegang dan kakinya menjepit kepalaku. Semua sisi vaginanya kontraksi. Saya lakukan gencatan gempuran biarkan mbak Tati menyelesaikan orgasmenya. Tetapi mulutku tetap menangkup di memeknya dan rasakan kesan kontraksi yang memiliki irama.
Sampai kontraksinya surut baru saya melepaskan bekapan mulutku dari memeknya. Saya duduk bertimpuh dan perlahan-lahan saya tancapkan jemari tengahku menelusup ke lubang vagina. Jariku cari G spot yang kurang lebih ada di posisi jan 11 dan jam 1. Saya menermukan G spotnya diposisi jam 12 semakin sedikit.
Saya lantas mengunyel tonjolan halus itu perlahan-lahan dengan irama teratur. Belum sampai 5 menit ia mulai menegang lagi dan mendadak muncrat sedikit cairan dari sisi memeknya sampai berkenaan mukaku. Mbak Tati sampai menjerit histeris saat mendapatkan orgasme ini kali. Semua lubang vaginanya berkedut mencekram jariku yang tetap ada dalam. Mukaku terserang sinaran sampai 3x, lantas ciaran itu menetes antara belahan vaginanya.
Sesudah erangannya berkurang dan kontraksinya semakin kurang kuat. Saya mengundurkan diri dan duduk selain mbak Tati yang seperti 1/2 tidak sadarkan diri. Mukaku masih cukup belepotan oleh air yang menciprat dari vaginanya, beberapa masuk ke dalam mulutku dan rasanya cukup asin.
Mbak Tati sadar jika ia menyemprot cairan hingga berkenaan mukaku. ” Sorry ya dik kamu keciprat kencing ku ya, saya ingin tahan tetapi tidak dapat, setelah sedap sekali, kamu apain sich barusan sampai dapat demikian,” kata Mbak tati sekalian menyeka mukaku yang tetap berselemak.
Cipratannya bukan kencing karena cukup kental, Mbak Tati bingung sesudah rasakan cairan yang disemburkan barusan cukup kental. ” Lho dik yang muncrat barusan kok seperti sperma mu ya,” ucapnya.
Saya menerangkan jika itu memang seperti sperma dan biasa melesat saat wanita capai orgasme vagina.
Karena mungkin ia merasa bersalah atau karena apa, ia lantas bangun dan menarikku ke kamar mandi. Ia membersihkan mukaku dengan handuk basah dan menyabuninya. Saya cukup gelagapan diraup handuk basah, tetapi berusaha nurut saja.
Sesudah ia bersihkan diri, Mbak Tati lantas menggeretku tiduran lagi pada tempat tidur.
Saya tidur dipeluknya, Belum berapakah lama mbak Tati telah tidur nyenyak hingga saat kulepas dekapannya ia melemas saja dan masih tetap tidur pulas. Saya tidak sukai tidur berangkulan, karena rasanya panas dan tubuh menjadi berkeringat. Saya lantas tidur terlentang disebelahnya. Penisku sebenarnya telah cukup berisi kembali, tetapi kubiarkan saja dan saya kosentrasi untuk tidur.
Saya percaya bila mbak Tati ku tiban, tentu ia tidak nolak alias pasrah. Tapi keliatannya ia sangat capek karena orgasmenya yang hebat barusan. Peluang lain masih tetap ada, hingga saya lebih bagus bersabar saja.
Esok harinya kami terjaga saat di luar telah sangat jelas. Waktu di tempat telah memperlihatkan jam 8 pagi. Saya terjaga dengan penis pada kondisi mengeras. Kupeluk mbak Tati. Ia terjaga dan membalasnya dekapanku. Saya menciumi pipinya, lehernya lantas selekasnya turun ke buah dadanya yang sudah sejak lama kukagumi karena besarnya. Mbak Tati pasrah saat kutelentangkan. Perlahan-lahan tempat kunaiki badannya dan kubiarkan penisku menggesek-gesek. Mulut vaginanya. Saya bisa jadi arahkan penisku masuk vaginanya dengan bimbingan tanganku. Tetapi saya tidak melakukan.
Lama kugesek-gesek penisku yang keras ke dalam mulut vagina mbak Tati. Ia lantas buka kakinya lebar-lebar dan tangannya tangkap penisku lantas perlahan-lahan menuntunnya masuk lubang vaginanya. Berasa cukup basah di situ dan sesudah tempatnya kurasa pas, pelan-pelak kudorong penisku masuk. Sedikit susah hingga saya lakukan pergerakanmaju undur perlahan-lahan dan pergerakannya pendek supaya penisku tidak terlepas dari mulut memeknya. Mungkin kepala penisku telah semakin basah terlumuri cairan dari vaginanya hingga perlahan-lahan penisku semakin dalam masuk ke vagina mbak Tati. Mbak Tati mendesah-desah sekalian merengkuh dan menarik bokongku supaya masuk lebih dalam . Semua penisku telah tengelam dalam lipatan vagina mbak tati. Saya lantas menariknya perlahan-lahan lantas dengan gerakn mendadak menusuk lagi. Demikian saya kerjakan pergerakan berkali-kali. Mbak Tati menjerit saat saya lakukan hunjaman. Jerit kepuasan yang berlainan dengan jerit kesakitan.
Saya lakukan sekalian cari posisi yang paling menggairahkan vagina mbak Tati. Rasa-rasanya bila saya mersa posisi yang nikmat ia juga begitu . Maka ada satu posisi hunjaman yang betul-betul memberikan kepuasan kedua pihak. Saya terus bermain dengan posisi MOT hingga kemudian kami capai orgasme nyaris bersama. Saya terpicu ejakulasi saat ia capai orgasme. Rasanya capitan di penisku semakin ketat hingga saya tidak dapat meredam orgasme ku.
Kutembakkan spermaku dalam lubang vaginanya dan rasakan kontraksi didalamnya. Saya rasakan kepuasan yang benar-benar prima. Air maniku sedikit keluar, hingga, tidaklah sampai tumpah ke sprei.
Sampai penisku menjadi kecil dan lepas sendirinya dari lubang vagina baru saya mengundurkan diri. Mbak Tati beri pujian permaianku. Ia menjelaskan tidak menduga saya mengusai dalam olah seks.
Kami mandi bersama-sama dan sama-sama menyabuni. Saya baru betul-betul dapat terang melihat begitu gemuknya tetek Mbak Tati saat saya menyabuninya. Jembutnya juga lebat dan kasar dan lebat.
Mbak Tati tidak hamis-habisnya memujiku di dalam permainan seks yang ucapnya tidak pernah ia peroleh, walau ia sebelumnya pernah terkait dengan 2 cowok sisa kekasihnya. “Mereka hanya egois, penginnya sedap sendiri,” kata mbak Tati.
Rupanya Mbak Tati pecah perawannya semenjak kelas 3 SMA. Lantas ia pacaran kembali saat akhir saat kuliahnya. Tetapi ke-2 cowoknya itu lari dan mengawini wanita lain. Itu yang membuat Mbak Tati merasa membenci lelaki yang ucapnya egois.
Saya terang-terangan menjelaskan, tidak berani melakukan perbuatan kurang ajar ke mbak Tati supaya perjalanan yang panjang ke Eropa ini tidak terusik. Jika saja mbak Tati tidak inginkan saya, tapi saya masih tetap serangnya, bisa jadi gagasan yang kami atur lama dapat amburadul. Saya mengetahui, wanita yang telah berusia, punyai sikap lebih egois, dan tidak gampang dikalahkan sentuhan birahi dan rayuan. Kekebalannya sangat tinggi. Karena itu hadapi mbak Tati, saya semakin banyak mengalah dan selalu memprioritaskan keperluannya.
Mbak Tati pada akhirnya membuka rahasia, jika ia tidak berkeberatan saya cabuli, karena ia nilai sejauh ini saya sebelumnya tidak pernah melakukan perbuatan kurang ajar. Ia merasa semakin nyaman bersamaku.
Saya benar-benar jaga sepanjang dengannya tidak untuk ambil ide. Selalu saya memberikan ia peluang untuk memutuskan terlebih dulu. Saat pagi barusan bermain saya menyengaja tidak segera memasukkan penisku, tapi kuberi peluang supaya mbak Tati lah yang ambil ide membimbingnya.
Dari jendela kusaksikan panorama di luar, beberapa orang mondar mandir telanjang, tapi beberapa ada yang kenakan bikini dan celana renang. Saya berunding dengan Mbak Tati, apa akan keluar telanjang atau gunakan bikini dan celana renang.
“Sudah nanggung sampai di sini, coba saja kita melangkah telanjang kaya orang edan, rasanya bagaimana sich,” kata Mbak Tati melawan.
Kami pada akhirnya bugil-gil keluar kamar hotel dengan menenteng tas yang berisi document penting dan uang. Sebelumnya saya merasa kurang percaya diri karena penisku keliatannya kecil dibanding bule-bule yang keliatannya panjang-panjang. Ah tetapi saya cuek saja. Toh nudis maksudnya tampilkan aslinya, bukan ingin kontes beradu bagus atau beradu besar.
Saya dan Mbak Tati rileks jalan antara lalu-lalang orang di daerah nudis Cap d’Agde. Sekalian telanjang kami makan pagi pagi, lantas melihat-lihat toko cenderamata dan masuk ke dalam supermaket. Senang berkeliling-keliling di sekitar keramaian kami ke arah pantai. Tidak ada tujuan ingin nyebur ke laut, karena ombaknya besar dan angin ribut sekali. Kami cuma ingin ketahui situasi pantai nudis. Banyak pula keluarga bule yang bawa keluarganya bertelanjang di pantai.
Satu perihal yang benar-benar kusayangkan ialah susahnya lakukan pengambilan foto. Di semua daerah nudis diterapkan aturan keras, jangan ambil gambar asal-asalan walau lewat camera HP. Terlihat tidak ada orang yang curi-curi mengambil gambar. Tetapi saya tidak ingin berserah demikian saja. Perjalanan yang mahal sampai kesini masak disia-siakan dengan berserah demikian saja. Sekalian pura pura menggengam HP saya berkali kali memencet tombol photo. Camera HP ku cukup hebat, dapat anti blur dan kekuatannya 5 megapixel. Banyak pula gambar yang saya mengambil curi-curi, sampai saya punyai gambar situasi supermaket bugil, kafe bugil dan keluarga bugil bersama-sama di pantai. Banyak yang masih kurang bagus memang, tapi banyak pula yang ideal sebagai dokumentasi.
Jemu berkeliling-keliling kota bugil, kami kembali lagi ke hotel untuk istirahat tidur siang. Tubuh rasanya bergetah dengan uap air laut. Saya putuskan mandi bersihkan tubuh. Mabk Tati ternyata rasakan hal sama. Kami mandi berdua.
Sedap sekali rasanya merengkuh badan mbak Tati yang penuh sabun. Badannya kenyal dan licin. Batangku menjadi mengeras karena berangkulan dengan belepotan sabun. kusodok-sodokkan dari belakang mbak Tati. Batangku melejit diaantara capitan belahan bokong yang montok sekali.










