Cerita Sex Mengancam Teman Wanita/Rekan kerja Berhubungan Intim Demi Kepuasanku
Statusku yang bebas (mahasiswa perantau) membuatku tak terbatas dalam beragam aktivitas, walaupun sering salah satunya memiliki muatan negatif. Pengalaman ini terjadi di tahun 2015 pada bulan November, di mana kota Surabaya sedang diguyur hujan. Adalah panorama sangat jarang jika Surabaya dicurahi hujan, karena seringkali kota ini ada pada keadaan kering.

Cersex Keluarga – Peluang itu kumanfaatkan untuk berkeliling-keliling mengelilingi Surabaya karena temperaturnya cukup berteman. Saya berkeliling-keliling dengan memakai transportasi umum, ke arah tempat tempat favorite dan tidak pernah kujalani sebelumnya. Ini kali saya santai , yang banyak didatangi WNI turunan. Mataku liar melihatlirik wanita putih mulus dan trendi. Entahlah mengapa dari dahulu saya terobsesi sama wanita Chinese yang menurut pandanganku ialah tipikal prima dalam beberapa hal.
Di lantai teratas, mataku tertuju ke seorang gadis elok dan seksi, sedang makan sendiri, tidak ada rekan. Dengan tehnik yang umum kulakukan, kudekati ia. Kami kenalan sesaat dan ia menawariku turut makan. Saya katakan saya telah kenyang. Ia namanya Nina **** (edited). Kami seumuran atau sekurang-kurangnya ia lebih tua 2 tahun dariku. Sesudah bercakap cukup lama, dengan keluarkan jurus empuk tentu saja, ia ajakku pulang bersama, karena saya akui akan menanti angkutan sampai hujan surut. Pada akhirnya, aku juga sepakat, dan selekasnya pergi dengannya.
Dalam mobil, saya tidak dapat tenang karena saat menyopir, saya dapat menyaksikan dadanya yang montok dan paha mulusnya bergerak lincah kuasai setir. Tetapi ia tidak mengetahui itu, karena saya tahu ia tidak sukai. Hal tersebut kusadari dari perbincangan sebelumnya. Ia keliatannya wanita baikbaik. Tetapi fokusku benar-benar terusik apalagi jalanan di kota Surabaya yang tidak rata membuat dada cantik yang sembunyi dibalik pakaiannya bergoyanggoyang. Ditambahkan lagi wangi badannya yang benar-benar menggairahkan. Pada akhirnya muncul pikiran jahat di otakku.
Saya berpindah ke belakang ya.. kataku. Mengapa? Saya mengantuk, ingin tidur an, kelak turunkan saya di jalan Kertajaya, kataku berpurapura. Waktu itu sejuta gagasan jahat telah menyusupi otakku. Ok, tetapi kamu jangan terlampau nyenyak ya.. kelak ngebanguninnya sulit, ucapnya polos. Di saat otakku telah kesetanan, tibatiba.. Jangan bising atau pisau ini akan menyobek lehermu, ancamku sambil tempelkan pisau lipat yang umum kubawa. Itu telah jadi rutinitasku semenjak di Medan dahulu.
Don.. apaapaan nihh..? teriaknya grogi, karena kaget. Saya ingatkan, diam, jangan macammacam! gertakku sekalian menekan permukaan pisau semakin kuat. Saya telah kehilangan kesetimbangan karena gairah. Lakukan mobilnya dengan lumrah, membawa ke wilayah Petemon.. cepat..! Ehh.. iiya.. iyahh.. jawabannya dengan ketakutan. Tas tadi ditempatkan di jok belakang selekasnya kubuka. Semua uang dan kartu cicilannya segera beralih ke kantongku.
Membawa ke Pinang Inn.. cepat! gertakku kembali. Ini kali saya telah berpindah ke jok depan, dan pisau kutempelkan di pinggangnya. Sepanjang perjalanan mukanya pucat dan kadang-kadang melihatiku, seakan meminta dikasihani. Jangan coba membuat pergerakan macammacam.. atau kamu kulempar ke jalan.. memahami? ancamku kembali sekalian ganti posisi.
Saya menggantikan setir. Entahlah, waktu itu saya merasa bukan diriku kembali. Mungkin iblis sedang menarinari di otakku. Ia cuma membisu, dengan badan gemetaran meredam perasaan takut. Tibatiba HPnya mengeluarkan bunyi, kurebut HP itu dan kuhempaskan di jalan sampai pecah. Ingat.. jangan melakukan tindakan anehaneh.. jika masih ingin hidup.. pesanku sesampai di parkir Pinang Inn. Mobil masuk langsung garasi, dan saya mengontak Front Officer. Kubayar, lantas kembali lagi ke garasi.
Keluar..! Dengan lumrah kugandeng ia masuk kamar. Kukunci dan kusuruh ia terlentang di atas kasur yang empuk. Kunyalakan TV kanal yang putar filmfilm biru. Pinang Inn memang disiapkan untuk bermesum riang. Ia terlihat makin ketakutan, saat melihatku secara langsung buka pakaian dan celana. Dengan memakai CD, kurebahkan badanku di sebelahnya dengan posisi ke samping. Pisau itu kugesekgesek disekitaran dadanya. Supaya proses ini tidak menyakitkan, kamu jangan berlagak.. atau esok mayatmu telah diketemukan di laut sana.. memahami?
Don.. ke.. ke.. napaa.. menjadi be.. gii.. ni? Apa.. salahku? dengan ketakutan ia berusaha membuatku luluh. Salahmu ialah.. kamu memperlihatkan badanmu di depan singa lapar.. Selekasnya, semua pakaiannya kusobek dengan pisauku yang tajam. Dimulai dari sisi luar sampai dalamnya. Sekarang ia telanjang bundar antara serpih baju mahal yang kusayatsayat. Ia menagis, mata sipitnya semakin bertambah sipit karena berusaha meredam air mata yang mulai mengucur cepat ditingkahi isaknya yang tersedu-sedu. Sesaat saya terheran melihat keelokan yang terpajang di hadapanku.
Dada putih mulus yang montok, badan langsing, dan.. ups.. lubang kemaluannya yang merah muda sembunyi malumalu antara paha yang dirapatkannya. Kubuka pahanya. Jangann Don.. kumohon jangan.. pintanya memelas. Saya tidak perduli. Hei.. Nin.. dapat diam tidak? Ingin mati? Hah..? ancamku sekalian menampar pipinya. Mukanya sampai terlontar karena saya menamparnya lumayan keras. Silahkan menjerit.. ini ruang kedap suara.. mari.. menjeritlah.., ejekku kesenangan. Selekasnya kulebarkan pahanya, kuelus permukaan kemaluannya secara halus dan memiliki irama.
Kadang-kadang ia melihatku. Ada pula desah aneh di bibirnya yang tipis. Saya terus mengelus kemaluan itu, sekalian dua jariku yang tidak bekerja permainkan puting susunya berganti-gantian. Ia cuma dapat mendesah dan menangis. Kudekatkan mukaku ke celah paha mulusnya. Dengan hati, kukuak lubang kemaluannya, sangat indah. Sepanjang umur, baru ini kali saya menyaksikan kemaluan wanita seindah tersebut. Memiliki bentuk cukup membukit imut, banyak bulu yang lembut dan lemas.
Bibir kemaluannya kupegang, selanjutnya lidahku kujulurkan masuk lubang yang nikmat tersebut. Kujilati dengan perlahan-lahan, mengelilingi semua permukaan atasnya. Shh.. Don.. Donhh.. jangaann.. sshh.. Nina sampai terduduk. Ada suatu hal yang lucu. Pada kondisi itu sempatsempatnya ia menggoyang pinggulnya mendesak mulutku, dan menjambak rambutku kadang-kadang. Dalam hati saya ketawa, Dasar wanita.. munafik. Mari.. Nin.. mari.. kataku perlahan berharap cairan itu selekasnya keluar membasahi kemaluan cantiknya. Waktu itu kesadaranku perlahan-lahan datang. Tindakanku kubuat selembut mungkin, namun masih tetap tegas supaya Nina tidak melakukan tindakan asal-asalan.
Ini kali lidahku mengaitngait klitorisnya teratur tetapi dengan arah lidah random. Ia semakin tergetar. Goyangan pinggulnya berasa sekali. Lho.. disetubuhi kok justru santai.. mari.. nangis kembali.. mana..? olokku. Don.. jangannhh.. janganh.. balasnya malumalu, berusaha geser kepalaku dari selangkangannya. Tetapi sesudah kepalaku digerakkan ke samping, justru diambilnya kembali sampai mulutku langsung jatuh di bibir kemaluannya.
Aku juga memahami, ia ingin memperlihatkan ketidaksudiannya, tetapi di lain faksi, ia benar-benar inginkan kesan tersebut. Nih.. saya kasih bonus.. silahkan nikmati.. kataku sekalian meneruskan jilatanku. Sementara tanganku yang kiri membelai payudaranya bergiliran dengan adil. Kanan dan kiri. Sementara tangan kananku kuletakkan di bawah bokongnya. Bokong seksi itu kuremas kadang-kadang.
Oghh.. sshh.. Nina menggeliat meredam gairah yang mulai menyusupi dianya. Sebentar ia lupa jika saat ini ia pada kondisi terjajah. Sshh.. terrusshh.. Perlahan-lahan tempat, cairan yang kunanti keluar . Secara oke, lendir bening itu mengucur membasahi lubang kemaluannya yang merebak. Donnhh.. Donhh.. Ia berteriak di selang orgasmenya yang kuhadiahkan secara cumacuma. Aduh.. Nin.. yang betul saja donk.. ringisku karena saat orgasme barusan, kukunya yang lentik mencederai bahuku.
Maaf.. maaf Donhh.. Saya stop sebentar untuk memberikannya waktu istirahat. Saya berdiri dari sisi tempat tidur. Ia terkulai lemas. Pahanya didiamkan terbuka. Kemaluan genit itu telah mengundang tangkai kemaluanku untuk berlaga. Tetapi saya berusaha meredam, supaya pemerkosaan ini tidak begitu menyakitkan. Kami berpandangan sesaat. Ia tidak lakukan perlawanan apaapa, pasrah.
Don.. saya tahu kamu sebetulnya baik, jangan sakiti saya yah.. saya ingin temani kamu di sini, asal kamu tidak mencederai saya.. pintanya sekalian mengganti posisi terlentangnya jadi duduk melipat lututnya ke bawah bokong. Lubang kemaluannya cukup terselinap sekarang ini. Kamu masih perawan tidak? tanyaku ketus. Iyah.. masih.. Nach.. sangat sayang, jika mulai esok kamu telah memiliki gelar tidak perawan kembali.. Ah.. ia tercekat.
Don.. semua uang barusan bisa diambil.. tetapi minta jangan yang disebut baru saja.. empat hari kembali saya menikah Don.. kumohon Don.. Ah.. dibanding cowok yang lain rasakan enaknya darah fresh kamu, mending saya curi sekarang ini.. kataku cepat sekalian dekatinya kembali. Don.. jangan.. kumohon.. Diam! Ingat.. pisau ini sewaktuwaktu dapat keluarkan isi perutmu.. ancamku.
Nina kaget sekali, karena menduga saya telah berbaik hati. Walau sebenarnya saya pun tidak sungguhsungguh geram kepadanya. Karena mungkin saya yang telah terlatih berteriakteriak membuat ketakutan. Saat ini giliranmu, kukeluarkan tangkai kemaluanku yang telah cukup terkulai. Aku pikir saya tidak perlu menerangkan kembali langkah menggugah preman yang ini.. kataku sekalian arahkan kepalanya bertemu dengan tangkai kemalauanku yang cukup besar.
Sesaat dipandanginya diriku. Tanpa berbicara apaapa ia menggenggam tangkai kemaluanku dan mengocaknya perlahan-lahan. Dikocaknya lagi hingga perlahan-lahan, sang tangkai unggulanku naik. Hanya itu? tanyaku kembali. Dibuka mulutnya dengan raguragu, kebenaran sekali episode di TV kanal sedang memeragakan hal sama. Saya sebetulnya ingin ketawa. Tetapi kutahan, karena gengsi jika ia mengetahui. Dikulumnya tangkai kemaluanku. Saya berdiri di atas tempat tidur.
Ia berjongkok dan memulai gerakkan kepalanya mundur-maju. Ahh.. saya mengeluh merasa sangat nikmat. Kusaksikan matanya kadang-kadang melihat TV. Agar saja, pikirku dalam hati. Toh ini untuk keuntunganku. Dijilatinya kepala kemaluanku. Tetapi ia tidak berani melihat mukaku. Auhhgghh.. Jangan dilepaskan.. seruku ketahan. Saya jongkok dengan arahkan kepala ke celah pahanya. Saya terlentang di bawah. Posisi kami saat ini 69. Saat berputar-putar barusan ia menggigit kemaluanku supaya tidak terlepas dari mulutnya. Lucu memang. Dengan bibir kemaluan pas di atas muka, kujilati dengan oke.
Ini kali pergerakan lidahku liar mengelilingi permukaan kemaluannya. Kadang-kadang kusedot bukit kecil itu sekalian masukkan hidungku yang kebenaran mancung ke lubang senggamanya. Oghh.. Ahh.. Kami berseru bersahutan. Kubalikkan badannya. Saat ini ia berada di bawah, namun masih tetap 69. Ini kali saya lebih bebas menjilat-jilati kemaluannya. Augghh.. Donhh.. enakkhh.. terusshh.. pintanya. Lantas melahap lagi tangkai kemaluanku dengan ganas. Kadang-kadang saya rasakan gigitan kecil disekitaran kepala kemaluan. Pandai ia, pikirku dalam hati.
Lidahku kujulurkan masuk ke dalam lubang sempit itu dan menari didalamnya. Bokongku kugoyang naikturun supaya kesan tangkai kemaluan yang ada di kulumannya semakin bertambah asyik. Sekalian menjilat lubang kemaluan itu, jarijariku permainkan bibir kemaluannya. Ougghh.. Don.. enakkhh.. Donnhh.. ahh.. Donnhh.. serunya diimbangi saluran hangat langsung banjiri lembah merah muda tersebut. Saat ini waktunya Nin. Saya ambil sikap duduk antara belahan ke-2 kakinya. Ia masih terlentang. Kugesek kembali kepala kemaluanku yang telah mengeras prima beradu dengan klitorisnya yang menegang.
Ia 1/2 duduk dengan meredam badannya gunakan siku tangan, dan turut melihat beradunya tangkai kemaluanku dengan klitorisnya yang telah jadi genit. Tangkai kemaluanku itu kuarahkan ke lubang kemaluannya. Jangann.. kumohon Donh.. jangan.. serunya tertatih sekalian mencekram tangkai kemaluanku. Saya siap memberikan kepuasan gairahmu, dengan apa, asal tidak mempertaruhkan pusakaku. Oh iya? Jika dari anus ingin tidak? tantangku. Tetapi sebetulnya saya tak lagi peduli karena kemaluanku telah meminta dihajarkan melesak lubang kemaluannya.
Yah.. terserah kamu Don.. Tidak.. ingin.. saya hanya ingin ini, ini tambah sedap.. teriakku sekalian menunjuk lubang kemaluannya. Nih.. pegang.. masukkan.. Dengan sangsi digenggamnya tangkai kemaluanku. Don.. apa tidak ada langkah lain? Langkah lain? Adaada saja kamu.. Hei.. kamu jangan berlagak ya.. janganlah sampai kesabaranku lenyap. Kamu berikan satu milyar juga saat ini saya tidak akan ingin melepas punyai kamu itu sekarang ini. Saya sudah tidak tahan.. memahami.. memahami? memahami..? gertakku dengan suara suara lebih meninggi.
Pisau tadi kusembunyikan di bawah kasur kuacungkan dan kutekan kuat di dadanya. Donn.. sakitt.. jangann.. rintihnya saat pisau barusan mencederai dada putihnya. Saya terperanjat. Tetapi tidak perduli. Mari.. dimasukin.. ini kali pisau kutekan kembali. Darah fresh mengucur perlahan-lahan dari cedera yang kuperbesar, walaupun tidak demikian kronis. Dengan berat dibarengi ketakutan, digenggamnya kemaluanku. Ditujukannya ke lubang kemaluannya. Susah.. sakitt.. Don.. ampunn.. Don.. Pegang ini, kataku tidak sadar karena memberi pisau itu ke tangannya.
Ia pun tidak mengetahui jika sedang menggenggam pisau. Lucu sekali. Saya cuma dapat tersenyum jika mengenang waktu tersebut. Saya merunduk dan menjilat-jilati kemaluannya. Ia melihatku menjilat-jilati barangnya. Kadang-kadang kami bertatapan. Entahlah apakah arti. Yang jelas saya merasa telah mempunyai mata sipit yang bikin gemas tersebut. Digerakkannya pinggul besarnya selaras jilatanku. Kuremas susunya yang fresh mengembang. Augghh.. Ahh.. jilatanku kupercepat. Cairannya mengucur kembali walaupun tidak sekitar tadi. Saya kembali duduk menghadap selangkangannya.
Tibatiba saya sadar jika sebilah pisau berada di tangannya. Selekasnya kuambil dan kulempar ke lantai. Ia baru sadar sesudah saya ambil pisau tersebut. Tetapi kelihatannya ia sudah kalah. Nin.. ludahin ke bawah.. yang banyak.. kataku sekalian menunjuk kemaluannya. Kami samasama meludah. Kuoleskan liur yang menetes itu ke tangkai kemaluanku, ke kemaluannya. Kadang-kadang ia ikut juga menyeka tangkai kemaluanku sama air ludah yang dikeluarkannya kembali di telapak tangannya. Saya melihatinya dengan sayang. Ia seakan memahami makna pandanganku tersebut.
Saya selekasnya mengecup bibirnya. Ia membalasnya. Kami berpagutan sebentar. Kurasakan tangkai kemaluanku bersinggungan dengan perutnya. Mari dicoba kembali.. Ini kali digenggamnya kepala kemaluanku. Ah.. Shh Dan.., Oogghh.. aahh.. Shh.. Kepala kemaluanku masuk perlahan-lahan. Sempit sekali lubang tersebut. Kusodok kembali perlahan-lahan. Ia cuma dapat menggigit bibir dan mencekram tanganku. Kadang-kadang napasnya terlihat sesak. Tetapi ada pula desah liar kedengar lirih. Donnhh.. saya tidak suka.. kaamu..
Kusodok terus, hingga kemudian semua tangkai kemaluanku tenggelam di lubang kewanitaannya. Saya tahu itu sakit. Tetapi ingin katakan apa, gairahku telah di ujung sundul. Brengsek.. Donhh.. baajingann.. kamu.. shh.. oghh, Saya tidak perduli kembali caci-makinya. Yang kurasakan cuma nikmat persenggamaan yang betulbenar berbeda. Shh.. shh.. Donhh.. Donhh..
Kupeluk ia eraterat. Goyanganku semakin liar. Saya cuma dapat dengar ia mencaci-maki. Kadang-kadang kupandangi mukanya di selang napasku yang ngosngosan. Berbagai ragam gestur berada di sana. Ada kesakitan, ada sakit hati, tetapi ada pula arti sayang, dan nafsu yang hangat. Kusaksikan titiktitik darah mulai mendesak lubang sempit yang terbentuk di antara tangkai kemaluan dan lubang kewanitaannya. Saat itu juga tagisnya meletus. Donhh.. bajingann.. kamuu.. jahatt.. kamu Don.. ahh.. uhh.. ia memukul dadaku keras sekali. Tangisnya semakin jadi. Saya kasihan . Kutarik kemaluanku dari lubang kemaluannya.
Darah fresh mengucur penuhi lubang yang memeras padam dan lecet. Kemaluanku kukocok semaksimal mungkin saat spermaku muncrat. Ahh.. ahh.. Air maniku terpancar keras membasahi dada dan beberapa mukanya. Ia menangis tersedu-sedu. Enaknya memek perawan kamu Nin.. kataku tersenyum suka. Saya segera menjilat-jilati darah fresh yang telah membasahi pahanya. Selekasnya kugendong ia ke arah kamar mandi. Di bibir bak, kududukkan ia.
Kuambil kertas toilet dan membasuhnya sama air. Kuusap darah yang berada di sekitaran kemaluannya secara halus. Darah di dadanya yang telah jadi kering kulap dengan hatihati. Kamu senang sekarang ini.. bukan demikian Don? ledeknya di selang tangisnya. Saya termenung. Saya merasa menyesal. Tetapi ingin katakan apa. Nasi telah jadi bubur. Kubersihkan semua darah itu sampai tidak berbekas. Kujilati kembali kemaluannya secara halus. Saya tahu, ini tentu tidak dapat ditampiknya. Betul, ia mulai tergetar.
Digenggamnya tanganku dan diremasnya jariku. Tissue yang kupegang dibuangnya, justru jariku dibantunya ke sepasang dada montok kepunyaannya. Ahh.. shh.. sekaligus ajaa.. Don.. hamili.. saya.. agar kamu.. lebih.. puass.. ucapnya sekalian mengangis kembali. Saya benar-benar tidak memahami. Terang-terangan di situ saya mirip orang bodoh. Tetapi dengan rileks kujilati terus kemaluannya. Dicapainya tangkai kemaluanku dan dikocakkocoknya perlahan-lahan. Kemaluanku telah terkulai.
Lama ia mencekram kemaluanku hingga kemudian bangun. Gairahku membara lagi. Kugendong kembali ia, dan jatuh bersama-sama di tempat tidur empuk. Kami berangkulan dan berciuman lama sekali. Kumasukkan lidahku ke mulutnya, dan menjilat-jilati rongga mulutnya. Entahlah berapakah kali kami sama-sama bertukaran air liur. Buatku, air ludahnya sangat nikmat melewati minuman enteng apapun itu. Saat saya ada di bawah, saya menelan semua liurnya ketika ia meludahi mulutku. Terserahlah, apa ia geram atau bagaimana. Sepanjang ia merasa bebas, saya melayaninya.
Hitunghitung balas budi. Hehehe.. Saya mengarah ke bawah, menjilat-jilati setiap inch sel kulitnya. Lehernya bahkan juga kuberi pertanda cupangan banyak, walaupun saya tahu empat hari kembali ia akan menikah. Perduli setan. Ahh.. Don.. hhsshh.. yanghh.. tersebut.. nikhhmatt, serunya ketahan saat putingnya kusedot dan kujilati secara bergairah. Tanganku merayap ke bawah dan membelai lubang kemaluannya yang basah. Saya terus merayap turun, menjilat-jilati perutnya dan mengelus pahanya dengan nakal.
Sesampai di selang paha kubuka kembali ke-2 kakinya, tersingkaplah lubang kemaluan yang kumakan barusan. Ini kali memiliki bentuk telah berlainan. Lubangnya cukup menganga seperti cedera lecet, tetapi tidak berdarah. Selekasnya kujilati kembali untuk beberapa kalinya. Donn.. enakhh.. nikmathh.. Jemari telunjukku kumasukkan halus ke lubang itu sekalian menjilat-jilati kemaluannya kadang-kadang. Aduhh.. duh.. enaknyaa.. Don.. jangan.. stop, serunya sekalian menggeliat luar biasa. Pinggul itu bergerak liar mendesak mulutku.
Kutindih ia dan kuarahkan tangkai kemaluanku. Uhh.. sshh, serunya sesak saat tangkai kemaluanku kuhantamkan ke lubang kepuasan tersebut. Goyangan untuk goyangan membuat erangannya makin garang. Sudah pasti saya makin brutal. Siapa tahan. Donhh.. bajiingann! untuk beberapa kalinya ia mencaci-makiku. Entahlah apa tujuannya. Ini kali ia benar-benar nikmati permainan (minimal secara fisik, entahlah jika hatinya). Kepalanya terlontar ke situ kemari dan napasnya mendesah luar biasa. Nin.. punyaahh.. kamuu.. assiikkh.. ahh, seruku saat renyutan lubang kemaluannya berasa sekali menekan tangkai kemaluanku. Kubalik ia, hingga saat ini tempatnya di atas.
Don.. saya.. akan.. bunuh.. kamuu.. sesuatu.. saat.. Silahkan.. saajahh.. Kami berdua bicara tidak karuan. Oughh.. aihh.. sshh, teriaknya menggeliat sekalian mengambili bulubulu dadaku. Saya merasa kesakitan. Tetapi biarkanlah. Ia kelihatannya benar-benar menyenangi. Donh.. kamu.. kamu.. ia tidak meneruskan katakatanya. Tibatiba.., Donhh.. Donhh.. bajingan.. ah.. serunya keras sekali, sekalian menggoyang bokongnya secara cepat dan menarinari seperti kilat. Bunyi becek di bawah sana mengisyaratkan ia lagi orgasme.
Tetapi goyangannya tidak kering. Kucabut tangkai kemaluanku dan memerintahnya membelakangiku sekalian berpegangan pada segi tempat tidur. Kuarahkan tangkai kemaluanku dari belakang dan, Oughh.. oughh.. oughh.. oughh.. setiap sikatanku disikapinya ajakan liar. Kugenjot terus sekalian meremasi ke-2 susunya yang turut bergoyang. Lama kami di posisi itu, tibatiba saya didorongnya dan ia berdiri di hadapanku. Saya ditamparnya keras dan merengkuhku kuat.
Diambilnya saya ke tempat tidur dan menggenggam kemaluanku. Ditindihnya saya, ia sendiri yang menusukkan kemaluanku ke lubang kewanitaannya. Merasai nihh.. bajingan.. shh, teriaknya sekalian menarinari di atasku. Saya tahu ia akan orgasme kembali. Aduh..Nin.. pekikku ketahan saat saat ini ia justru menggigit punggungku. Don.. Don.. ia berseru kuat dan merengkuh kuat kepalaku di dadanya. Kupeluk ia dan mengusungnya. Kami berdiri di lantai. Dengan posisi ini saya dapat menyikatnya dengan keras. Kurapatkan ke dinding, dan kupompa semaksimal mungkin.
Nin.. ahshh.. Donhh.. Saya keluarkan sperma dalam kemaluannya. Ia merengkuhku kuat sekali. Kami berdua ngosngosan. Kuangkat ia ke tempat tidur. Kami terkulai lemas. Kutarik kemaluanku yang menurun dengan perlahan. Kutarik sprei itu karena telah berisi bintik darah dan bintik cairan yang berbagai ragam. Kami terkapar bersebelahan, tanpa baju. Don.. kamu berhutang padaku, satu saat saya tentu menagihnya. Utang apa? tanyaku. Ia tidak menjawab.
Dengan perlahan-lahan ia pejamkan mata dan tertidur. Kupandangi mukanya yang elok. Terlihat capek. Hmm.. untung sekali calon suaminya. Kuelus rambutnya yang lempeng cantik secara halus. Kuciumi keningnya dan kupeluk ia. Saya memasukkan mukaku di dadanya dan lelap bersama-sama. Besoknya kami bangun bersama, tetap berangkulan. Saya sadar, ia tidak punyai baju kembali. Selekasnya saya keluar dan pergi ke toko paling dekat. Kubeli Tshirt dan celana pendek.
Saat kembali lagi ke kamar, ia membisu dan tidak ingin menjawab pertanyaanku. Didiamkan demikian saya tidak memusingkan. Kupakaikan Tshirt dan celana pendek ke badannya. Ia tetap membisu. Mari pulang.. ajakku. Ia mengambil langkah lesu. Kugandeng ia ke mobil, kududukkan di jok depan. Sesudah isi kamar telah kurapikan, saya segera mengemudikan mobil. Sepanjangnya jalan ia cuma diam membisu. Nin.. saya tahu apakah yang kamu alami. Tetapi, satu perihal yang saya meminta darimu.. jangan membenciku atas sesuatu yang kuperbuat. Bencilah kepadaku karena saya bukan calon suamimu, kataku cukup kecewa dengan sedikit berdiplomasi. Ia melihatku dengan resah.
Namun masih tetap membisu. Sampai di wilayah tempat tinggalnya juga ia masih tetap diam. Oke.. Nin.. saya tidak tahu apakah yang kamu harapkan. Bila ada yang ingin kamu sampaikan, lakukan sebelum sekarang saya pergi. Ia cuma diam membisu. Dipandanginya saya cukup lama. Karena tidak ada jawaban, kudekati ia dan kucium tangannya. Ia tidak bereaksi. Bye.. Nin.. Saya selekasnya bergerak pergi. Empat hari selanjutnya saya memang dengan diamdiam bertandang ke wilayah tempat tinggalnya.
Betul, dari informasi yang kudapat ia sedang mengadakan pesta pernikahan dalam suatu Restoran eksklusif di pusat perkotaan. Tetapi saya tidak pergi menyaksikannya. Siapa yang tahu itu cuma akan menjadi cedera baru untuknya. Pertemuanku paling akhir dengannya terjadi di salah satunya cafe di Surabaya. Saat grupku manggung, saya menyaksikannya duduk di muka bersama seorang (mungkin suaminya). Lagu ini kupersembahkan buat seorang wanita terindah yang dulu pernah memberi warna perjalanan hidupku, aku juga selekasnya menyanyikan tembang Mi Corazon dengan penghayatan yang dalam.
Ia menikmatinya dengan pandangan syahdu ke arahku. Sudah pasti tidak seorang juga pernah mengetahui, jika suatu hal sempat terjadi antara kami. Saat ini satu tahun telah melalui. Ia juga pernah menghubungiku dan katakan jika ia sedang hamil 7 bulan. Saat kutanya di mana ia waktu itu, telephone selekasnya ditutupnya. Well, rupanya aku juga mengalami pemerkosaan darinya. Mudah-mudahan ini dapat menjadi pelajaran bernilai buat sahabat semua. Ups.. rupanya saat ini ada janji dengan Tante Stella.










