Cerita Sex Berhubungan Intim Dengan Tukang Pemijat Yang Mesum Dan Terhot

Sebelumnya memang berasa bebas karena tidak ada kewajiban bangun pagi, pergi ke kantor. Sesudah nyaris satu tahun berasa jemu . Hidup dengan pendapatan yang kurang mencukupi membuat kehidupanku menjadi cukup turun. Ke-2 anak ku telah dewasa dan telah bekerja semua, untuk ongkos teratur memang saya tidak pusing. Entahlah darimanakah gagasannya, mendadak saya coba terjun menjadi pemijat.

Cersex KeluargaTapi bukan pemijat biasa, saya ingin mengutamakan diri memijat wanita. Saya menjadi tertarik pelajari beberapa cara memijat, baik membaca beberapa buku sampai mencari beragam web pada internet. Sedikit susah memang, tapi sedikit-demi sedikit saya mulai ingat beberapa titik syaraf, khususnya di badan wanita.

Mengapa saya tertarik jadi pemijat yang khusus wanita. Saya ingin memiliki pengalaman di bagian tersebut. Uang tidak begitu jadi tujuanku, tapi pengalaman itu yang saya mencari.

Saya mengawali dengan memasangkan iklan di koran. Tiap hari sepanjang sebulan saya pasang iklanku. Sesudah 10 hari iklan disiarkan saya baru mendapatkan telephone. Peneleponnya seorang wanita. Ia menanyakan benar-benar mendalam. Saya menjawab seadanya, tidak ada yang kulebih-lebihkan.

Ia selanjutnya memilih untuk meminta saya pijat. Wanita ini ada di hotel, karena ia memanglah bukan orang Jakarta. Jantungku cukup berdebar-debar , hadapi order yang pertama ini.

Sesampainya di lobby saya menghubunginya lewat house phone. Ia menyilahkan saya segera ke kamarnya. Saat pintu dibuka saya menyaksikan seorang wanita yang tidak muda kembali. Umurnya kutaksir sekitaran 45 tahun, tubuhnya cukup gendut, tetapi goresan mukanya tetap sisa kecantikannya saat muda dahulu.

Sesudah perkataan selamat malam, saya dipersilahkan duduk dan ia menanyaiku beberapa macam. Saya menjawab seadanya seperti pada telephone barusan.

Ibu ini cemas jika saya bukan tukang pijat benar-benar. Ia tidak sukai dipijat oleh gigolo dan sejenisnya. Tetapi ia kurang sukai dipijat oleh wanita, karena tenaganya lemah. Saya cuma bohong jika profesiku telah kujalani sekitaran sepuluh tahun. Walau sebenarnya ini ialah yang pertama.

“Pak, saya gunakan apa, gunakan kimono ini dapat,” tanyanya.
“Terserah ibu, nikmatnya gunakan apa.” Jawabku.
“Gunakan bodi lotion saya saja ya pak, ” ucapnya memberikan bodi lotion lantas ia tidur tengkurap.

Saya mengawalinya dengan memijat telapak kaki kanan. Saya coba ia sekeras apa sanggup meredam penekanan jari-jariku. Pertama saya cuma menekan telapak kakinya agar cukup lemas, kemudian beberapa titik syarafnya saya pencet satu-satu. Pada penekanan beberapa titik syaraf itu baru ia menggeliat-gelinjang kesakitan.

Saya terangkan berkenaan beberapa organ tertentu yang kurang sehat. Ia mulai mengagumiku, karena saya memahami pusat-pusat syaraf. Saya pencet sejumlah pusat syaraf di telapak kaki sampai ia tidak begitu merasa sakit kembali. Saya mulai memasuki ke betisnya. Betisnya lumayan besar dan lemaknya tebal. Saya baluri bodi lotin di sekujur betisnya.

Saya menekan sisi betisnya supaya berasa semakin nyaman. Otot-otot betisnya berasa cukup kaku. Awalnya ia merasa cukup sakit, tapi makin lama menyusut karena ototnya mulai melemas. Di bagian betis saya menekan simpul-simpul syaraf. Pijatanku kubatasi sampai belakang lutut, lantas saya berpindah ke kaki samping .

Dari beragam simpul syaraf, yang paling kuhafal ialah simpul syaraf rangsangan. Ia ke-2 kakinya saya mainkan simpul syaraf rangsangan. Syaraf itu bila bereaksi karena itu pemiliknya merasa panas, atau panas. Betul saja sang ibu mulai mengeluh bila ACnya kurang dingin, walau sebenarnya dari barusan ACnya cukup dingin.

Saya perlu menekan syaraf rangsangan itu cuma untuk cairkan situasi supaya sang ibu tidak kaku dan rasa malunya cukup menyusut. Bila ia benar-benar tidak terangsang, bisa jadi saya tidak dapat segera memijat paha dan tubuhnya langsung, tapi dari kembali kimono.

Saya merasa yaitu jika sang ibu mulai terangsang, pertama karena ia mulai merasa panas, dan ke-2 saat saya meminta izin memijat pahanya, ia menggangguk saja. Saya memanglah tidak menguak kimononya, tapi tanganku mencari pahanya dari bawah kimono. Walau saya tidak menyaksikan, tapi tanganku rasakan begitu tebalnya paha sang Ibu.

Sisi paha disanggupi semakin banyak syaraf rangsangan, khususnya paha sisi dalam. Saya mainkan penekanan pijatan pada bagian tersebut. Pergerakan pijatanku semakin lama menyebabkan kimononya terkuak semakin tinggi. Ke-2 pahanya saat ini telah terkena terang bahkan juga calana dalamnyanya juga terlihat. Saya benar-benar waspada tidak untuk menyenggol sisi vaginanya. Tetapi bongkahan bokongnya yang gendut jadi target pijatanku. Ia menggelinjang-geliat dan terkadang lakukan pergerakan mirip orang merinding. Saya tahu jika ia telah semakin terangsang.

Pada kondisi semacam itu, saya menjelaskan akan memijat punggungnya, dan meminta kesepakatan apa dipijat masih tetap tertutup kimono, atau kimononya dibuka, hingga dapat dipijat bodi lotion. Sang ibu membolehkan saya memijatnya langsung. Kimono dibukanya pada kondisi ia masih tengkurap. Saya menolong melepaskan kimononya dan saya gantungkan pada pintu kamar mandi. Sang ibu sekarang cuma kenakan celana dalam dan bh saja tidur tengkurap.

Saya mulai bekerja di pungungnya. Pergerakan pijat di punggun memberi rasa nikmat longgarkan rasa cape, rasa nikmat rangsangan. Saya lakukan pergerakan gabungan ke-2 nya.
“Pak jika menyusahkan BHnya dilepaskan saja,” kata sang ibu.

Dengan pergerakan berhati-hati saya melepas hubungan bhnya. Karena mungkin sang ibu telah terangsang hingga ia justru ingin juga menggairahkanku dengan pancingan melepaskan bh. Saya tetap mengatur diri. Pergerakan pijatanku berulang-kali masuk ke dalam bawah celana dalamnya untuk menekan sisi bokongnya. Saya ucapkan jika dampak pijatan itu mengendorkan otot-otot yang kaku pada bagian bokong, karena kebanyakan duduk. Keliatannya ia yakin, hingga ia tawarkan saya untuk buka celana dalamnya.

Sang ibu karena terangsang dan mungkin juga yakin penuh ke padaku hingga ia siap tanpa celana dalam di depanku. Saya menarik celana dalamnya kebawah Ia menolong dengan mengusung sisi badannya. Sekarang sisi belakangnya polos. Saya semakin bebas memijat dan lakukan rangsangan lewat pijatan.
Tubuhnya semakin resah dengan beberapa gerakan rangsangan yang ditahan. Dari pergerakan napasnya ia kelihatan semakin cepat bernafas. Saya percaya sekali jika sang Ibu telah terangsang berat.

Sesudah usai sisi belakang saya meminta ia kembali ke posisi terlentang. Saya telah mempersiapkan handuk untuk tutupi kemaluannya demikian ia kembali.
Saya mengurut lagi dari kaki, ke paha sampai dekat sekali ke kemaluannya. ” Aduh pak, rasanya kebingungan tidak karuan,” ucapnya mendadak.

“Apa pijatan saya kurang sedap, bu,” tanyaku merendah.
“Bukan pak, pijatannya sich sedap tetapi, tubuh saya menjadi bergidik semua,” ucapnya.
” Mungkin acnya terlampau dingin bu, apa perlu saya matikan agar tidak begitu dingin,” tanyaku.
“Bukan permasalahan ac pak, tetapi tidak tahu ini tubuh saya kok menjadi tidak karuan rasanya,” ucapnya.

Saya berpindah memijat tangannya, lantas dadanya sisi atas. Pada bagian dekat sama payudaranya saya meminta ijin untuk lakukan pijatan disekelilingnya.
” Sudah pak silakan saja, membuka saja jika perlu BHnya tidak perlu ditutup-tutup kembali lah,” ucapnya.
Saya memijat di beberapa sisi payudaranya. Teteknya lumayan besar dengan puting yang lebih besar .

“Maaf bu, apa ibu pernah check kanker payudara,” tanyaku.
“Belum pak, memang mengapa, adakah tanda-tanda kanker ya,” ucapnya kaget.
“Ah tidak saya hanya bertanya. Jika dibolehkan saya mau mencoba merabanya, untuk ketahui kalau-kalau ada abnormalitas,” kataku.

“Memang bapak dapat tahu jika ada abnormalitas,” ucapnya.
“Tahu sama persis sich tidak, tetapi jika ada tonjolan yang tidak lumrah dapat berasa, tetapi jika ibu tidak mau dicheck ya terserah ibu,” kataku.
” Bisa dech pak, coba dicheck, semoga tidak ada ah,” ucapnya cukup cemas.

Saya mulai menekan-nekan payudaranya cari tonjolan, tapi tetek ibu ini kelihatan normal dan tidak berasa ada tonjolan aneh. Saya lantas meminta ijin menstimulus syaraf disekitaran payudaranya dengan mainkan putingnya. Ia cuma menggangguk saja pertanda menyepakati. Awalnya jariku ku oser-oserkan di putingnya, lantas saya pelintir lembut. Keliatannya sang ibu kekurangannya di putting payudara ini, hingga ia mendesis-desis meredam rangsangannya.
Saya lantas mengakhiri pijat payudara. Saya bertanya apa ibu kerap tidak dapat meredam kencing. “Iya pak, mengapa itu ya,” tanyanya.

Kujelaskan jika kandungan kemihnya tertekan, saya menawarkan jika ia sepakat posisi perutnya akan di benahi. Ia setuju-setuju saja.

Saya lantas beralih memijat sisi bawah perutnya. Pergerakan berhati-hati kulakukan pada bagian ini, karena perut wanita benar-benar sensitif. Berulang-kali pergerakanku dibarengi pergerakan tarikan napas sama seperti yang saya meminta. Pijatan sisi bawah perut menyebabkan kepingin pipis.

Sang ibu memang selanjutnya meminta ijin stop sesaat, karena ia memang kepingin pipis. Ia bangun dan melangkah demikian saja tanpa ditutup apapun itu jalan ke kamar mandi. Saya dengar hembusan keras air seninya di gas seutuhnya.

Sekembali dari kamar mandi sang ibu langsung tidur terlentang kembali tanpa tertutupi apa pun itu. Saya coba berlaku professional dan meneruskan pijatanku.

Paling akhir saya tawarkan pijatan untuk kencangkan otot vaginanya. Ini sebetulnya cuma akal-akalanku saja. Karena tidak mungkin otot vagina dapat dikencangkan lewat pijatan.
Tetapi ia menanggapiku serius, dan menanyakan apa saya dapat lakukan pijatan semacam itu. Saya katakan dapat dicoba. Sang ibu lantas menyilahkan saya lakukan pijatan khusus tersebut. Saya secara santun meminta ijin untuk lakukan pijatan disekitaran kemaluannya. Ia menangguk pertanda tidak berkeberatan.

Saya memijat di tepi sekitar dubur, Karena itu karena itu kakinya harus dikangkangkan dengan lebar mungkin. Jembut sang ibu cukup lebat dan bibir vaginanya warna cukup gelap dan sedikit menggelambir. Pijatan disekitaran bokong dan seputaran dubur membuat rangsangan semakin bertambah. Disamping itu saya menekan selangkangan di tepi gundukan kemaluannya. Selanjutnya ialah gundukan kemaluannya sisi atas dan mengurut otot clitoris ke kanan dan kiri.

Dampaknya mungkin sama bila lelaki dipijat di sekitar alat vitalnya, akan memunculkan rangsangan yang luar biasa. Saya menyaksikan sela kemaluan sang ibu mulai basah bahkan juga ada yang menetes ke kasur.
Itu ialah sesion pijatanku yang paling akhir. Saya ucapkan jika semua pijatannya telah usai dan saya merekomendasikan supaya ia merendam di air hangat sekitaran 15 menit, untuk mengurangi otot-otot.

Ia memujiku mati-matian karena ucapnya pijatanku sangat nikmat dan pengetahuanku lebih bagus dari tukang pijat biasa. Sekitaran 90 menit sesion pijatan itu saya selesaikan.
“Pak tubuh saya menjadi agak lekat karena bodi lotion, dapat bapak tolong saya menggosok sisi belakang sekalian saya merendam,” pintanya.

Saya tahu ini keinginan keliatannya lumrah, tetapi dibuat-buat. Untuk servis saya mengatakan ketersediaan.
Saya masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tangan sekalian bersihkan bak mandi dan mengisinya sama air hangat.
Kujemput sang Ibu masuk ke dalam kamar mandi. Sang ibu tidak ada rasa malu kembali, jalan melangkah sekalian telanjang. Perlahan-lahan ia menceburkan diri ke bak mandi. Saya kenyataannya bukan hanya disuruh menyabuni sisi belakangnya, tapi semua badannya ia meminta saya menggosok dengan spons mandi. Saya mengikuti saja apa tekadnya.

Ia kuperlakukan seperti anak kecil menyabuni sekujur badannya dan menyiraminya dengan shower lantas mengeringkannya dengan handuk lantas kubimbing kembali lagi ke kamar. Tubuhnya lantas kutaburi bedak talk.
“Pak masih tetap ada yang kurang, jika bapak tidak berkeberatan untuk menyelesaikannya saya meminta satu kembali servis bapak,” ucapnya cukup malu.

Rupanya untuk menyelesaikan rasa rangsangannya ia meminta saya mengoralnya. Ia dengan mengiba menjelaskan akan menambahkan panduan bagiku. Ia meminta saya mengoralnya.

Dengan suka hati permintannya saya penuhi. Vaginyanya yang wangi sabun saya jilati khususnya di skitar clitorisnya. Sang ibu kelojotan tidak karuan dan kurang dari 5 menit ia telah capai orgasme. Saya tawarkan untuk menyelesaikan orgasmenya secara therapy khusus di vaginanya buat dia capai orgasme vaginal. Sang ibu menurut saja dan saya selekasnya mengambil sisi dalam vaginanya dan mengocaknya dengan tehnik tertentu. Dalam kurun waktu tidak begitu lama ia telah capai orgasem secara berteriak.

“Pak saya senang sekali, saya akan panggil bapak jika saya ke Jakarta, beberapa teman saya saya akan beritahukan,” ucapnya.

Ia keluarkan uang 500 ribu. Jumlah ini terlampau besar untuk bayaranku yang cuma 100 ribu. Saya balikkan 400 ribu dan kukatakan bahw saya cukup dibayarkan 100 ribu saja. Ia bingung akan sikapku dan menampik terima uang 400 ribu yang kukembalikan. Saya lakukan strategi itu untuk menarik simpati lebih besar dibanding clientku. Dengan mau tak mau pada akhirnya diterimanya lagi uang yang kukembalikan, lantas saya izin sekalian ngloyor keluar.

Mulai sejak itu saya banyak mulai terima order, Satu hari saya dapat sampai terima order lima orang. Tidak cuma rekan sang ibu klien pertama ku, tapi banyak pula seseorang yang mengorderku lewat telephone.
Saya satu bulan dapat mendapat pendapatan sampai 10 juta.

Customerku banyak yang ingin menyelesaikan pijatan dengan meminta disebadani. Ini susah saya tolak, tapi ke mereka saya ucapkan jika saya bukanlah orang yang luar biasa dalam bersebadan, tapi saya tahu langkah mereka memperoleh orgasme yang hebat. Biasanya mereka senang dan sebelumnya tidak pernah protes.

Sejumlah customerku justru memaksakan supaya mereka didampingi tidur di dalam kamar hotelnya. Ini jadi tugas yang menggembirakan dan meletihkan. Pendapatanku menjadi semakin besar, bahkan juga lebih besar dari saat saya masih kerja dulu. Tetapi keluargaku tidak ada yang tahu profesiku sebagai pemijat. Mereka cuma tahu jika saya ngobyek mengolah project, hingga terkadang tidak dapat pulang kerumah.